Cerita Medan Part.1 Petualang selalu rindu rumah

Melva, aku, Damay & Nida

Melva, aku, Damay & Nida

Hari masih terbilang pagi ketika pesawat Mandala Air mendarat di Bandara Polonia Medan. Belum hilang rasa sakit di telinga karena tekanan udara saat pesawat yang aku tumpangi dari Jakarta terbang mengangkasa. Selama 2 jam perjalanan udara aku kembali memuaskan rasa kantuk dengan tertidur. Wajar saja, aku harus bangun jam 3 pagi demi terbang ke medan pukul 5 subuh. Dan aku terbangun saat pengumuman dari pengeras suara menghimbau agar seluruh penumpang hendaknya bersiap untuk landing. Sabtu pagi pukul 7.20 WIB, tanggal 15 Juni 2013, aku menginjakan kaki di tanah Medan.

Kuayunkan langkah menuju gedung bandara yang tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan bandara Soekarno Hatta. Ramai. Aku terus berjalan mengikuti arus penumpang yang baru saja tiba dan hendak keluar bandara. Supir-supir taksi tampak begitu bersemangat menyambut. Menawarkan jasa, mengais rejeki sejak pagi.

READ MORE

Advertisements

27 thoughts on “Cerita Medan Part.1 Petualang selalu rindu rumah

  1. Kirain pas baca di bagian razia…. langsung nebak.. kayaknya bakalan ada uang damai juga sama petugas…. rupanya itu petugas tdk trllu mau merepotkan backpacker ya? hehe 🙂

    • Heheheh.. iyaa, kita jg udh deg2an. Indikasinya kesana. Soalnya keliatan kok bkn razia resmi. Udah takut aja kalo sampe dia kejam. Gagal rencana backpacking 🙂

    • Mampir doang pas malemnya, hari kedua setelah pulang dari Samosir. hehe… cuma beli roti bakar bandung dan burger. Dinginnya nggak tahaaann

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s