Eksotika Baduy part.4 You’re the champion, Daffa’

image

Get well soon ya Daffa’

Bau obat semerbak memenuhi ruang penciuman, suara derit printer semarak di telinga. Orang-orang berseragam putih-putih hilir mudik membawa berkas, dan stetoskop tergantung di leher. Beberapa di antaranya duduk melayani pengunjung dari balik meja dan komputernya. Kursi tunggu ramai oleh pasien yang mengantri. Pagi di Rumah Sakit Ibu dan Anak Kurnia Cilegon, 18 Juni 2013, aku memangku Daffa’ di kursi tunggu poly C, Dokter spesialis anak.

Padahal baru semalam aku tiba di rumah pukul 1 malam, setelah pergi backpacking ke Medan bersama teman, dan tanpa Daffa’ yang biasanya aku ajak serta. Masih teringat pada Jum’at, 15 Juni 2013, 4 hari yang lalu, salah seorang teman bertanya padaku. “Daffa’ nggak di ajak?”. Dengan santai aku menjawab seraya mengembang senyum; “Ada saatnya gue pergi sendiri, kan?”.

Hari ini, pekerjaan menuntut aku berada di kantor. Tapi kutinggalkan kewajiban itu dengan mengajukan cuti mendadak. Anakku lebih penting, Daffa’ harus sembuh dulu. Tugas di kantor bisa didelegasikan sementara ke pegawai yang lain. Sekarang, aku harap-harap cemas menunggu panggilan untuk masuk ke ruang dokter.

Daffa’ terkulai lemas dalam pelukku. Suhu badannya tinggi, 38.7 derajat celcius. Sekujur badan sampai ke mukanya penuh bintik merah. Aku menahan pilu dalam hati, mengkhawatirkan satu penyakit yang menyeramkan itu. Aku peluk dan ciumi mukanya yang kuyu. Panas dari kulitnya menempel ke bibirku. Aku semakin merasa perih dalam hati.

Segera setelah pemeriksaan dokter selesai, Daffa’ dibawa ke IGD. Aku peluk dia yang terbaring tak berdaya di atas matras. Suster bekerja mengambil sample darah untuk di cek di laboratorium. Daffa’ merintih saat jarum suntik itu menusuk pembuluh darah di lengan kanannya.

“Nggak papa sayang, cuma sebentar.” bisikku lirih di telinganya.

Tak lama, suster menyelesaikan tugasnya dengan baik. Sambil menunggu hasil laboratorium, aku usap-usap kepala Daffa’ yang mulai berkeringat. Daffa’ masih menangis sambil tangan kirinya memengagi lengan kanan yang kini tertempel kapas dan solatip di tempat yang tadi ditusuk jarum.

“Daffa’ mau lihat foto-foto ibu kemaren nggak?” tanyaku, dan dia mengangguk.

Kubuka folder galery di androidku. Kutunjukkan foto-foto Danau Toba, air terjun Sipiso-piso, dan foto-foto yang aku ambil di pulau Samosir, ada foto patung Sigale-gale, Rumah Bolon, dan makam Sidabutar. Terus aku slide dengan jari telunjuk, satu persatu sampai Daffa’ terlupa akan jarum suntik yang tadi mampir di tangannya. Hingga habis koleksi foto hasil backpacking di Medan, dan sampai pada koleksi foto-foto selama di Baduy.

image

Jembatan Akar

“Daffa’ inget nggak ini foto dimana?” tanyaku. Daffa’ masih diam. Matanya mengerjap sembari sedikit mengangguk. Kubawa ingatannya pada hari itu, aku dan Daffa’ ada di tempat yang sekarang kami pandangi di layar android. Sebuah jembatan yang eksotis, jembatan akar.

Jembatan ini yang selalu disebut-sebut oleh para panitia writing camp yang mengambil setting tempat di Baduy. Sejak perjalanan berangkat dari Serang, pada Sabtu, 26 Mei 2013. Katanya, tak akan lengkap perjalanan ke tanah Baduy jika belum melihat jembatan akar yang menggantung di atas sungai ini. Maka, track sepanjang 17 kilometer pun dipilih untuk menuju terminal Ciboleger, dari Cibeo. Berbeda jalur dengan yang dilalui saat menuju Cibeo dari ciboleger yang hanya berjarak 13 kilometer.

Selama perjalanan pulang, aku dan Daffa’ terus bergandengan. Seperti halnya saat perjalanan berangkat kemarin.

Dua per tiga jarak tempuh dari perkampungan Baduy dalam sudah dilalui dengan berjalan kaki. Jalan setapak berbatu dan naik turun bukit tentunya. Aku dan Daffa’ kadang terpeleset dan jatuh bersama. Tak jarang kami malah tertawa menikmati peristiwa itu yang membuat celana kami kotor dan sakit di bagian bokong karena terbentur bebatuan.

Tiba di jembatan akar ini, mataku terpana. Betapa unik dan mengagumkan. Orang-orang Baduy yang membuatnya. Akar-akar dari pohon yang masih hidup kokoh di sisi kanan dan kiri sungai, ditarik dan dipilih sehingga tersambung dari ujung ke ujung, melintang di atas sungai yang diapit tebing batu. Di bagian dasar jembatan dijajarkan bambu sebagai pijakan.

Di jembatan ini, sejenak melepas lelah. Aku menuruni tebing, terpaku disisi sungai dan memandangi jembatan yang tak habis-habis pesonanya membius mata. Sementara Daffa’ tanpa melepas pakaian langsung saja menghambur ke sungai, merendam tubuhnya yang tak gemuk itu. Daffa’ memang suka bermain-main dengan air. Tak peduli lagi pada dingin air pegunungan yang bisa saja membuatnya mengigil. Berhati-hati dia duduk di atas batu besar, di tengah arus yang cukup deras.

Usai melepas lelah, perjalanan dilanjutkan. Berjalan kaki lagi hingga ke tepi hutan dan berbatasan dengan perkampungan penduduk dengan peradaban yang sudah modern. Jalur yang semula setapak, kini jalan beraspal. Sawah di sisi kanan dan kiri, diselingi rumah warga yang bergerombol, lalu sawah lagi. Matahari terik di siang bolong membakar kulit. Perjalanan menjadi terasa jauh lebih berat karena di jalan raya tak ada lagi pohon-pohon tinggi yang menaungi. Daffa’ beberapa kali meminta berhenti di warung untuk membeli minum dan jajan.

image

Bermain air di bawah Jembatan Akar

Di beberapa bagian jalan sedang ada perbaikan, pembangunan jembatan, dan dijumpai beberapa baligho kampanye calon bupati Lebak di perempatan jalan.

Nostalgia di Baduy lalu terpaksa berhenti saat seorang suster memanggilku. Hasil laboratorium sudah ada ditangannya. Ku tinggalkan Daffa’ di IGD. Kuminta dia menunggu sebentar saja karena aku harus bertemu dokter untuk mengetahui hasil pemeriksaan dari sampel darah yang tadi diambil.

Aku sedikit bisa bernafas lega setelah dokter menjelaskan bahwa kekhawatiranku akan Demam Berdarah itu tidak terbukti. Trombosit dan HB-nya normal. Bintik merah di sekujur badan dan muka itu diindikasikan karena virus campak. Dan angka 6 yang tertulis di bagian paling bawah di kertas hasil tes widal itu menunjukkan bahwa Daffa’ menderita demam tiphoid.

Dokter menyarankan untuk diopname saja agar Daffa’ bisa bed rest dalam pengawasan dokter. Aku menyetujui. Suster mengajakku menghadap bagian administrasi untuk memilih kamar rawat. Kupilihkan kamar kelas 2 untuk anak pertamaku itu. Setelah selesai urusan administrasi, aku kembali ke ruang IGD dan mendapati Daffa’ telah jatuh tertidur.

“Bu, anaknya diinfus dulu ya.” seorang suster menyapa ramah. Aku mengangguk. Lalu kupeluk lagi Daffa’, sementara suster mulai bekerja. Daffa’ terbangun saat merasakan lengannya mulai dipengangi. Tangisan itu kembali pecah saat jarum menusuk pembuluh darahnya.

“Sabar ya nak, nanti Daffa’ sembuh. Ini cuma sebentar.”
“Daffa’ ngga mau, Ibu. Lepasin ininya!”

Daffa’ terus menangis, merengek tak mau melihat selang bening dengan jarum tersambung di punggung tangan kanannya. Kembali kupeluk-ciumi Daffa’ untuk menenangkannya.

Perawat lelaki kemudian datang dengan kursi roda. Tangis Daffa’ sudah mereda. Kubopong tubuhnya, memindahkanhya dari atas matras ke kursi roda. Lalu bergerak menuju kamar rawat, ruang tulip 3 di lantai 3.

Kamar kelas dua dengan 3 ranjang untuk 3 pasien. Salah satunya sudah dihuni oleh bayi usia 6 bulan yang menderita diare. Daffa’ pasien kedua yang menghuni kamar ini. Satu ranjang kosong. Kamar dengan AC dan TV, toilet di dalam ruangan, semoga bisa membuat Daffa sedikit nyaman selama dirawat.

Tak lama setelah kubaringkan Daffa’ di tempat tidurnya, ku elus rambutnya yang lembab oleh keringat. Kuajak ia bicara apa saja, hingga ia kembali tertidur.

“Nak, kamu jagoan ibu. Cepatlah sembuh. Nanti kita jalan-jalan lagi. Ingat gunung Krakatau yang pernah kita taklukan bersama? Ingat perjalanan kita pertama kali naik pesawat ke Singapura dan Malaysia yang menegangkan? Ingat perjalanan panjang berjuta rasa di tanah adat Baduy? Aku masih berhutang banyak padamu. Kau belum melihat air terjun. Kau juga belum naik gunung yang tingginya di atas 3000 mdpl. Aku juga belum sempat mengajakmu belajar berenang, snorkeling dan diving. Kamu harus sehat, Nak. Aku tau kau sanggup. Ingatkan, perjalanan di Baduy itu tidak mudah dan merupakan yang terberat bagi kita sejauh ini. Dan kau mampu melaluinya. Kau hebat, Nak. Kau juara di hati ibu. I love you.”

Advertisements

21 thoughts on “Eksotika Baduy part.4 You’re the champion, Daffa’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s