Eksotika Baduy Part.3 Selamat datang di Cibeo

Rumah Adat Baduy. Photo by. Donna Imelda

Rumah Adat Baduy. Photo by. Donna Imelda

Selamat datang di Cibeo. Sebuah perkampungan adat Baduy dalam yang terus menjaga adat dan budaya leluhurnya. Hilang sudah separuh dari besarnya rasa penasaranku tentang satu suku di pedalaman provinsi Banten ini. Minggu, 27 Mei 2013, aku bersama anakku Daffa’ telah menaklukan sebuah tantangan tak terduga. Menembus rimba, melintasi jalan setapak, belasan kilometer melangkahkan kaki di bawah hujan. Aku dan Daffa’ menikmatinya.

Jam setangah lima sore. Tanah pijakan yang padat. Beberapa tertutup lumut hijau yang rusak terinjak karena ia tumbuh di jalur jalan setapak. Di kanan kiri jalur yang aku lewati pohon-pohon terlihat sudah berumur, dan beberapa masih muda. Batang pohonnya tinggi menjulang dengan permukannya yang beberapa ditumbuhi jamur dan dijalari tumbuhan rambat. Aku mencoba mengenali seberapa banyak yang aku tau. Pohon durian, manggis, kelapa, jengkol, petai, aren, apalagi? Ah, aku di tengah hutan yang hijau. Nyawa dari bumi.

Jam setengah lima sore. Sungai yang bersih. Suara air gemericik memanjakan telinga. Aliran airnya yang jernih, tenang, namun tak dalam. Terlihat dari atas jembatan bambu yang aku pijak untuk menyeberang. Masih ditengah hutan yang menawarkan surga dari sisa hujan. Tanah basah menghamburkan aroma. Petrichor. Kuhirup udara dalam, memejam mata. Anak lelaki usia 6 tahun bernama Daffa’ masih dalam gandenganku. Kulangkah kaki membawanya turun ke sungai. Menikmati dingin air menyapa kaki-kaki yang lupa rasanya lelah.

Jam setengah lima sore. Selamat datang di Cibeo. Sebuah peradaban hidup yang sederhana. Menyatu dengan alam, saling menjaga. Masyarakat adat yang bersahaja. Tiba disini, seperti memasuki kawasan asrama. Rumah-rumah panggung yang sama, dinding bilik, rangka bambu, lantai welit, beratap daun kirai. Seperti berseragam, hitam-putih pakaian penghuninya yang tetap semarak dengan semyum ramah diwajah. Menyambut kami para pendatang dari peradaban modern yang ingin mencicipi bagaimana mereka bisa berbahagia dalam kesederhanaan.

Anak-anak kecil duduk di beranda rumah panggung mereka. Memperhatikan manusia-manusia berbalut pakaian warna-warni. Para gadis yang malu-malu dan segera masuk kedalam rumah. Beberapa ibu menggendong anak bayinya yang lucu. Para lelaki dewasa yang menyapa ramah. Beberapa ayam kampung berkeliar di halaman.

“Kita berbeda.” fikirku.

Ke sebuah rumah diantaranya, aku dibawa untuk beristirahat oleh Pak San San, si bapak pemandu. Rupanya aku diajak ke rumahnya. Aku dan Daffa’ lalu duduk di beranda panggung yang tak terlalu tinggi itu. Duduk juga bersama ku teman-teman lain, bercanda tawa melupakan lelah.

Sementara Pak Juli, yang juga menjadi pemandu rombongan kami para peserta Writing Camp dalam rangka penutup Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 21, sudah beberapa kali mengajak kami para perempuan untuk beristirahat di rumahnya. Malam ini, peserta laki-laki akan menginap di rumah Pak San San, dan perempuan di rumah Pak Juli.

Sebelum memindahkan badan yang sudah terlanjur nyaman duduk di beranda rumah pak San San. Aku mangajak Daffa’ kembali ke sungai. Mencicipi lagi air mengalir yang bening dan dingin. Kubasuh muka dan membersihkan lumpur-lumpur yang menempel di celana cargoku. Daffa’ melepas pakaiannya lalu mandi dengan ceria. Dingin menjalar dari kaki terus sampai ubun-ubun. Syaraf tubuh merespon dengan baik. Gigil menyapa.

“Udah yuk sayang.” kuajak Daffa’ menyudahi kebahagiaannya bermain dengan air, mandi tanpa sabun dan shampo.

Di rumah Pak Juli. Lagi-lagi aku memilih menikmati sore dengan duduk di beranda. Suasana ramai. Beberapa pedagang dari luar Baduy menggelar lapak. Ada makanan ringan dan souvenir khas Baduy. Para pengunjung dari kota yang menurut Pak Juli, pada hari ini jumlahnya mencapai 200 orang pun mengerubuti. Aku yang bokek ini cukup gigit jari saja. Cukup pulang dengan selamat besok, dan membawa oleh-oleh cerita.

Magrib menjelang. Aku berganti pakaian, menunaikan solat magrib lalu mengambil posisi di ruang tamu untuk membaringkan badan. Sementara yang lain sibuk menyiapkan makan malam, aku rasanya sudah tak sanggup membawa badan untuk membantu. Daffa’ yang juga kelelahan, melunaskan ritualnya sebelum tidur. 2 kotak susu coklat ukuran 200 ml, diseruputnya dengan sedotan.

“Ibu, kok bantalnya kayak gini?” Daffa’ terheran dengan memandangi bantal yang tidak biasa baginya.

“Iya, nggak papa tidurin aja.”

“Nggak mau, Ibu.”

“Trus mau gimana? kalo nggak pake bantal ntar kepalanya sakit loh.”

Akhirnya dengan setengah ragu, dipakai juga bantal kapuk yang baru kali ini aku dan Daffa’ lihat bentuk dan rupanya. Ya, hanya ada di baduy, mungkin. Sebentuk bantal kapuk, yang sarungnya adalah karung beras ukuran 10 kg. Tanpa lapisan sarung bantal kain yang seperti kita pakai sehari-hari di kota. Tapi jangan terburu berundersetimate, setelah aku mencoba meletakkan kepala di atasnya, nyaman juga.

Tak lama, Daffa’ jatuh dalam tidur pulasnya. Kupandangi wajah polos Daffa’ di tengah remang cahaya lampu minyak. Damai sekali wajah itu. Seakan tak peduli dimana berada. Yang dia butuh hanya tidur. Tak peduli tanpa kasur, tak peduli tak ada listrik, tak peduli tanpa TV, dan tak butuh lagi kipas angin atau AC, dan sudah lupa seperti apa rupa bantal yang dia tiduri.

Masih dalam satu ruangan yang sama, hanya berjarak tak lebih dari 2 meter, sebuah tungku sedang digunakan untuk memasak menyebarkan hangat.

“Ada yang mau teh atau kopi?” seseorang menawarkan saat air yang dipanaskan telah mendidih.

“Gue mau dong.”

“Gue juga.”

“Ada jahe nggak?”

Suara-suara mahluk yang kedinginan bersahutan. Kupaksakan badan untuk kembali duduk dari posisi berbaring yang mulai memberi rasa nyaman. Sakit rasanya seluruh badan saat coba bergerak. Rupanya mungkin jaringan otot banyak yang terobek setelah berjalan jauh. Aku beringsut di lantai welit. Mendekati gelas-gelas bambu yang telah terisi teh dan kopi. Mengambilnya satu, lalu berbagi dengan perempuan bernama Donna yang akhir-akhir ini aku merasa seperti memiliki kesamaan jiwa.

“Gatel pingin ambil foto.” aku cuma nyengir mendengar pernyataan mba Donna ini.

“Gelas dari bambu begini kan unik, mana ada di Jakarta!” tambahnya lagi.

Ya, kita cukup melihat dan menikmatinya saja. Tidak boleh mengambil gambar apapun disini. Kelestarian dan keaslian adat harus dilindungi. Semua pengunjung harus mematuhi aturan yang berlaku di daerah yang didatangi. Seperti juga di Baduy ini. Semua aturan yang ada seharusnya jangan dilanggar.

Tak lama setelah segelas teh untuk berdua habis. Nasi, sarden kaleng, mi instan goreng dan sambal terhidang. Makan bersama seluruh peserta writing camp dan si empunya rumah. Suasana semakin hangat. Sambil berbincang pengalaman-pengalaman seru selama di perjalanan tadi. Daffa’ sudah jauh terlelap. Sengaja tak kubangunkan, aku fikir dia sudah cukup makan roti dan susu tadi.

Waktu makan usai. Kami masih duduk bersama. Usai makan ini diagendakan untuk tanya jawab dengan Pak Juli, pemilik rumah tempat kami menginap yang sekaligus adalah pemandu kami. Aku menunggu, tak ada yang memulai bertanya. Yang terjadi malah transaksi jual beli souvenir. Pak Juli juga ternyata memiliki dagangan berupa gantungan kunci dari kulit kluwek, tas rajut, dan kain tenun. Semua khas Baduy.

Perutku sudah kenyang. Kelopak mataku sudah berat. Ingin rasanya merebahkan tubuh kembali. Namun tugas harus dikerjakan. Kuberanikan diri mengajukan pertanyaan untuk mempelopori. Aku fikir mungkin teman-temanku malu, atau tak tau harus memulai dari mana?

“Pak Juli, di dalam rumah ini ada berapa kepala keluarga?”

Pertanyaan itu kemudian dijawab oleh Pak Juli. Aku mendengarkan sambil manggut-manggut. Pertanyaan-pertanyaan lain lalu meluncur deras dariku, disusul oleh teman-teman yang lain. Forum terbentuk. Teman-teman mulai sibuk mencatat segala informasi yang didapat. Aku berangsur mundur dan kembali ke posisi dimana aku harus tidur dan memeluk Daffa’. Diikuti mba’ Donna yang juga lalu tidur di sebelahku.

Sebelum tertidur, aku jadi teringat kemarin malam. Di Twitter aku sempat menyapa mba Donna dan Fenny. Alangkah indahnya jika bisa menikmati malam purnama di Baduy. Terfikir untuk keluar sebentar, melihat langit di atas tanah adat ini. Tapi sayangnya badanku tak mau berkompromi. Malas sekali memaksa tubuh yang rasanya sudah remuk redam. Mari kita tidur saja, supaya esok bisa fit kembali dan berjalan sejauh 17 kilometer menuju terminal Ciboleger untuk pulang.

Menjelang pagi. Selembar kain sarung yang kujadikan selimut tak mampu menangkal udara dingin di kampung Cibeo. Aku meringkuk mencoba mencipta hangat.

“Ibu, pelukin. Dingin…” terdengar suara Daffa’ manja.

Kurapikan kain sarung yang menutup tubuh kecilnya. Lalu kupeluk, dan cinta menghangat.

 

Advertisements

6 thoughts on “Eksotika Baduy Part.3 Selamat datang di Cibeo

    • Tak akan lari baduy dikejar.. mihihihi.. waktu ada banyak, ayok serius merencanakan 😉 kalo waktunya match, nanti aku temenin. 🙂

    • Hehehe.. kan di Baduy Dalem nggak boleh ambil foto. foto yang di atas itu juga foto rumah-rumah di Baduy Luar. Nanti ditambah deh foto-foto souvenir juga 😉

  1. Ah bantal itu….aku harus menepis ragu saat bantal itu terulur ke arahku….underestimate bikin alergiku kambuh. Ternyata bantal itu semalaman gak lepas dari kepala…ah jadi malu.

    Daf….tante donna jg pengen dipeluk…. hiks

    Noe…detail mu itu lho, hebat !!!

    • Hehe.. insiden bantal. ternyata anget di kepala. aku curiga, ada diisi rempah. haha ngaco.

      Iya, lagi belajar untuk “Show, not tell”, belom bagus, tapi mari menulis teruuss.. hufh hufh hufh jam didinding pun melayang *terbang*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s