Eksotika Baduy Part.2 Pelajaran baru

Bocah terbungkus trash bag hitam itu Daffa'

Bocah terbungkus trash bag hitam itu Daffa’

Hidup tak selalu mudah.
Masalah datang silih berganti.
Dan aku hanya manusia,
Terkadang kesabaran sampai pada ambang batasnya.

Maafkan ibu, Nak.
Terkadang segala emosi negatif
jadi salah arah dan berlabuh padamu.
Maka dalam setiap langkah yang kita lalui bersama,
dalam setiap petualangan di tengah bahaya,
ijinkan ibu menebus segala salah dan dosa padamu.

Emosi cinta dari dasar hati membuncah,
Ada kebahagiaan lalu mengharu biru,
Bahwa aku bersyukur memilikimu, Daffa’,
Malaikat kecilku.

Lihatlah,
Kaki-kaki ini yang terus melangkah beriringan,
Tangan-tangan ini yang selalu bergandengan,
Dalam perjalanan menuju Cibeo,
Sebuah perkampungan masyarakat adat Baduy dalam.

*****

“Berapa jam lagi Pak?” aku berkali-kali bertanya hal serupa pada pak San-san, seorang lelaki suku Baduy dalam yang menjadi guide kami.

“Baru setengah jalan.” Jawabnya.

“Nanti ada tanjakan curam lagi?” aku kuatir sekaligus penasaran apa yang ada di depan, setelah tadi melewati sebuah tanjakan dan turunan yang cukup panjang dan melelahkan.

“Ada. Dua kali nanjak, dua kali turun, terus belok, terus sampe di Cibeo.”

“Ha?” aku melongo.

Writing camp kali ini benar-benar luar biasa. Aku tak yakin nanti setelah sampai di Baduy apakah aku akan berselera untuk wawancara dengan warga Baduy dengan sisa-sisa tenaga setelah berjalan berkilo-kilo meter. Dan apakah aku masih tertarik untuk mengerjakan tugas untuk membuat artikel tentang Baduy dan dikirim ke koran lokal nantinya? Aku rasa tidak! Dalam fikiranku saat ini hanyalah, bila kami akan sampai di kampung Cibeo?

“Ibu, kenapa masuk hutan lagi?” pertanyaan itu datang lagi dari mulut Daffa’.

“Kenapa? Daffa’ capek?” tanyaku dan dijawab gelengan kepala.

“Daffa’ takut Ibu.” tuturnya kemudian.

“Jangan takut, kan ada ibu.” Semakin erat aku genggam tangan Daffa’ agar lebih meyakinkannya bahwa aku akan terus menjaganya.

“Bu, tadi kita udah ketemu rumah, kenapa nggak berenti aja disana?”

“Itu kan baru Baduy luar, kita mau ke Baduy dalem. Nanti kalo udah sampe kita nginep disana.”

“Emang Baduy itu apa sih Bu?”

Nak, baiklah jika kamu memaksa. Ibu akan jelaskan padamu apa yang ibu tau, dalam bahasa yang semoga bisa kamu pahami.

“Baduy itu nama dari sebuah suku yang ada di pedalaman. Mereka punya kebiasaan hidup yang beda sama kita. Disana nanti nggak ada listrik, dan tentunya nggak ada TV dan kipas angin.”

“Nggak ada AC juga? Terus kalo nanti kepanasan gimana?”

“Disana udaranya dingin, karena kampungnya ada di puncak gunung. Jadi nggak akan kepanasan.”

“Terus nanti banyak nyamuk nggak?”

“Oh nggak bakal ada nyamuk disana. Orang-orang Baduy itu sangat menjaga kebersihan. Nggak ada yang buang sampah sebarangan. Mandi dan nyuci aja nggak boleh pake sabun, sampo, dan odol. Jadi air sungai itu bersih. Nggak bakal ada nyamuk di air dan lingkungan yang bersih.”

Daffa’ terdiam mendengar penjelasanku. Entah apakah dia sedang mencerna penjelasanku? Atau sedang menyiapkan pertanyaan lain?

"Ibu, ini apa?" - "Em.. ini.. em.." - "Kalo yang itu?" - "Em.."

“Ibu, ini apa?” – “Em..ini..em..” – “Kalo yang itu?” – “Em..”

“Oya, nanti disana kita tidurnya nggak pake kasur loh.” aku menambahkan penjelasan lagi.

“Tapi pake tiker?”

“Iya.”

“Nanti kalo badannya sakit gimana?”

“Laah, ya enggak lah. Kan cuma semalem. Besok juga pulang.”

“Ibu, Daffa’ nggak mau disini.” tiba-tiba Daffa’ merengek.

“Loh kenapa? Daffa’ capek?”

“Kakinya kotor. Jalannya becek.” Daffa’ mulai mengeluarkan suara tangisan.

Aku lihat kedua kaki Daffa’ yang masih terus diajaknya melangkah. Penuh lumpur sebatas mata kaki. Tadi selama berjalan sambil mengobrol, konsentrasiku memperhatikan jalan jadi agak buyar. Beberapa kali Daffa’ terpeleset dan hampir jatuh. Keseimbanganku pun hilang karenanya. Tapi syukurlah kami tak sampai benar-benar jatuh. Pasti akan sangat merepotkan teman-teman seperjalanan di jalan setapak yang menanjak curam.

Aku khawatir jika Daffa’ akan menyerah. Menangis kencang, lalu mogok dan minta gendong. “Daffa’, please. Jangan menyerah sekarang!” dalam hati aku berulang mengucapkan kalimat itu. Bagaimana ini? Aku kebingungan.

“Sabar ya sayang, nanti ada sungai kita cuci kaki.” aku coba lagi menguatkannya. Daffa’ terus merengek, bertanya kenapa sungai tak kunjung ditemui? Dan terus aku janjikan padanya, nanti pasti ada sungai.

Sampai akhirnya telingaku menangkap suara gemericik. Bahgianya aku saat melihat aliran air di depanku. Melintas memotong jalan setapak. Disisi kiri jalan setapak terdapat bebatuan besar. Di antara batu-batu tersebut diletakan sepotong bambu sehingga air melewati lubang bambunya dan terciptalah air mancur. Aku ajak Daffa’ berjalan cepat mendekati air mancur tersebut, lalu untuk pertama kalinya aku mengajarinya minum air tanpa dimasak terlebih dahulu. Aku percaya ini dari mata air pegunungan yang murni.

Setelah puas minum air yang dingin dan sejuk itu, Daffa’ membersihkan kakinya di bawah pancuran yang membentuk aliran sungai kecil. Aku mengisi ulang botol air mineral yang sudah kerontang. Tak jauh dari situ ada sungai besar.  Arusnya deras sekali dan harus diseberangi dengan jembatan bambu. Jembatan ini membuatku takjub. Entah bagaimana harus mengambarkannya. Coba lihat saja fotonya. Aku meminta bang Yulian untuk mengeluarkan kamera dari dalam tasnya. Kebetulan hujan sudah reda.

Kedua kaki Daffa’ sudah tak berlumpur lagi. Dia kembali berjalan dengan ceria. Aku lega melihatnya. Tak jarang aku dibuat tertawa karena tingkahnya. Kadang jika kondisi jalan sudah tak terlalu bahaya, sedikit lebar dan datar, dia melepas pegangan tanganku. Berjalan mendahului orang-orang di depannya dengan dua tangan di depan dadanya seolah sedang memegang setir mobil. Dari mulutnya diciptakan suara ‘ngeng-ngeng’ seolah dia benar-benar sedang menyetir mobil, dan membalap dengan gerakan kaki yang dikelok-kelokan. Daffa’ lucu sekali. Menghibur.

Melihat itu aku lalu menemukan pelajaran baru. Hidup itu tak perlu dibuat susah. Meski mengetahui perjalanan masih panjang dan tak tau kapan akan berakhir. Jalani saja dengan hati senang. Jika lelah, berhenti sejenak, lalu jalan lagi. Jika bosan, lakukan hal-hal yang menyenangkan sambil terus berjalan mencapai tujuan. Yakin saja, selama kita di track yang benar, pasti akan sampai.

“Hebat ya si Daffa’. Bisa gitu sambil main-main.” mba’ Donna urun komentar.

“Ya begitulah anak-anak. Menganggap ini permaian, jadi tak ada beban.” bang Yulian kali ini menyahut. Aku diam saja.

“Makanya, semua itu bersumber dari apa yang kita fikirkan. Jangan fikirkan kalo perjalanan ini berat, nanti jadi berat betulan.” sambung bang Yulian lagi. Kali ini aku dan mba Donna mengangguk-angguk setuju.

“Coba contoh tuh si Kabayan. Dia kalo nemu tanjakan, dia senyum, karena dia tau setelah ini pasti ada turunan. Tapi kalo ketemu turunan dia akan sedih, karena setelah turunan nanti pasti ada tanjakan lagi.”

“Oo, gitu ya Bang?” aku coba menjawab sambil terus berhati-hati melangkah.

“Tapi kan kalo ngeliat ada tanjakan itu bikin ngenes, Bang. Itu ujungnya dimana?” kali ini mba Donna.

“Tipsnya, kalo berjalan di tanjakan jangan liat ke atas. Itu bisa bikin mental kita jadi lemah. Lihat aja ke bawah, sambil perhatikan pijakan. Nggak akan terasa, nanti juga sampai, Donna.”

"Ayo, Tante semangat!" - Rekonstruksi menapaki tanjakan cinta

“Ayo, Tante semangat!” – Daffa’ & mba’ Donna menapaki tanjakan cinta.

Banyak juga nasehat dan tips berguna yang dituturkan Bang Yulian selama berjalan bersama. Seorang yang baru saja aku kenal hari ini, yang rupanya dia punya hobi mendaki gunung. Aku mencoba mempraktekan tipsnya saat melalui tanjakan curam terakhir sebelum sampai di Cibeo.

Tanjakan cinta namanya. Dengan kemiringan yang nyaris 45 derajat, aku dan mba’ Donna yang berjalan tak berjauhan benar-benar dibuat hampir putus asa. Kami akhirnya tak bisa untuk tidak melihat ke atas. Pertanyaan besar itu pun bagai hantu. Dimana ujungnya tanjakan ini? Lalu memandang ke bawah. Hutan menghampar hijau. Jalan setapak tanah merah seolah menawarkan kami untuk berseluncur. Sementara bukit-bukit yang sudah kami lewati sejak dari Ciboleger terlihat membiru. Kami berada di tengah-tengah. Maju enggan, pulang tak bisa lagi.

Bang Yulian yang sejak tadi memberi petuah sudah jauh di depan. Aku dan mba’ Donna kehabisan nafas. Dua, tiga langkah menapaki jalan setapak yang dibuat berundak membentuk anak tangga, lalu berhenti satu menit. Berjalan lagi dua atau tinga langkah, lalu berhenti lagi. Aku dan Daffa’ berjalan persis di belakang mba Donna. Dan ritme berjalan seperti itu membuat Daffa’ tak sabar. Daffa’ menarik-narik tanganku untuk berjalan lebih cepat dan mendahului. Tak bisa menolak, aku tinggalkan mba’ Donna yang mukanya terlihat memucat.

Setelah kami berjarak sekitar 4 meter di atas mba’ Donna. Ku ajak Daffa’ berhenti. Tanjakan masih belum terlihat dimana puncaknya. Aku sendiri kelelahan.

“Nak, kita tunggu tante Donna dulu ya.” pintaku.

“Tante, ayok jalan lagi. Nanti kelamaan loh sampenya.” Daffa’ malah meneriaki mba’ Donna.

“Hahaha.., sori ya, Mba’. Gue nggak ngajarin loh.” aku ikut berteriak. Sambil menahan tawa geli. Darimana kau dapat kata-kata itu, Nak?

Aku pernah membaca sebuah buku catatan perjalanan hasil tulisan Jack Alawi, relawan Rumah Dunia yang sudah berhasil menerbitkan bukunya secara indie. Ternyata tanjakan cinta ini memiliki legenda. Jika sepasang kekasih melewati tanjakan ini sambil bergandengan tangan, dan tanpa menengok lagi ke bawah, maka cinta mereka akan abadi. Ah, fikiran nakalku jadi teringat lagi pada lelaki itu. Abang, lain kali maukah kamu bersama denganku melewati tanjakan ini?

*****

Setelah tanjakan terlewati dan sampai di puncaknya. Aku, Daffa’ dan mba’ Donna lalu break lagi. Duduk berselonjor di atas batu-batu sambil mengatur nafas yang sejah tadi sudah menderu-deru di dada. Kali ini Daffa’ tak menolak beristirahat. Aku tau, dia juga pasti merasakan lelah. Sehebat apa pun dia yang terus dipuji oleh teman-temanku selama di perjalanan, toh dia tetap manusia juga.

Disini, Pak San San tiba-tiba muncul dari jalur jalan setapak yang berbeda dari yang kami lewati tadi. Pak San San muncul bersama dua anaknya yaitu Kasip dan Kasiman, juga bersama Bang Yulian dan Mas Firman. Rupanya mereka bertemu di ladang. Ladang? Kalau anak-anak ini ada di ladang mereka yang dekat sini, bererti Cibeo sudah dekat? Dalam hati aku kegirangan.

“Hei, dari mana? Mau kemana?” candaan khas Bang Yulian itu kali ini aku yang lemparkan kepada mereka, dan hanya dibalas tawa.

Aku, Daffa' dan Leuit (lumbung padi) di Baduy luar

Aku, Daffa’ dan Leuit (lumbung padi) di Baduy luar

Kami lalu melanjutkan perjalanan. Jalan masih setapak dan landai. Adapun naik dan turun namun tidak curam. Tanahnya padat, tidak berlumpur, dan beberapa tertutupi lumut hijau. Terlihat cantik sekali alam yang kami sambangi ini. Suasananya terasa damai. Rupanya kami baru saja melewati perbatasan ataran kawasan baduy luar dan Baduy dalam. Tak lama kami lalu bertemu sungai yang harus kami seberangi dengan jembatan bambu.

“Ibu, itu ada rumah. Kita mau kesana ya?” Daffa’ menunjuk sekumpulan bangunan berbentuk panggung. Bentuknya kecil dan terbuat dari bambu. Akau tak yakin itu rumah. Aku tanyakan kepada Pak San San. Ternyata itu adalah lumbung padi milik warga Baduy yang disebut leuit. Tadi di baduy luar kami juga melewati leuit-leuit seperti ini. Namun tadi aku tak terlalu memperhatikan, karena konsestrasiku adalah menjaga Daffa’ selama berjalan.

Setelah melewati sekelompok leuit, lalu terlihatlah rumah-rumah panggung khas Baduy. Akhirnya sampai juga di Cibeo. Mari Nak, kita beristirahat. Kita sudah melalui perjalanan yang tak mudah. Saatnya kamu kembali menjadi anak-anak. Tidurlah…

🙂 – 🙂 – 🙂

“Hidup itu tak perlu dibuat susah. Meski mengetahui perjalanan masih panjang dan tak tau kapan akan berakhir. Jalani saja dengan hati senang. Jika lelah, berhenti sejenak, lalu jalan lagi. Jika bosan, lakukan hal-hal yang menyenangkan sambil terus berjalan mencapai tujuan. Yakin saja, selama kita di track yang benar, pasti akan sampai.”

Advertisements

35 thoughts on “Eksotika Baduy Part.2 Pelajaran baru

  1. wah… Daffa hebat… 🙂 Dia dah mau keliling sama mamanya… hebat…
    seru juga ya mba. berjalan2 eh ada pembelajaran juga. sama seperti pas tahun lalu liburan keluarga.. gak disangka banyak pembelajarannya juga.

    • Nah itu, di alam dalam petualangan akan banyak hal mengejutkan ditemukan secara nggak sengaja, dan pelajaran-pelajran itu nggak ada di bangku sekolah 😉

      Salam buat keluarganya mas Ryan

  2. Suka kalimat penutupnya mbak..juara banget…hidup itu memang tak perlu dibuat susah. Selamat juga buat daffa kuat jalan sampai cibeondan menakhlukkan tanjakan cinta…toppp 🙂

    • Iya maak.. Daffa’ itu yang penting gak ditinggal kalo ibuknya mau pergi jalan. Hahaha maka sebekum berangkat udah dikasih tau dulu kalo bakal naik gunung atau bakal capek jalan kaki. Deal? Baru jalan. Hehehe.. makasih udah mampir ya maak

    • Daffa’ sih enggak. Umur 6 tahun. Dia kalo capek bangeeet ya minta duduk istirahat, ngeringik nanya kok nggak sampe-sampe. Tapi sambil terus tetep jalan. Hihihi.. Kalo Abyan, anak kedua baru deh, mogok kalo udah capek. HARUS! gendong. heuheu.. umurnya baru 4 tahun.

    • Bisaa.. pasti bisa 😉 yuk kapaan. aku aja nggak kapok kok. Badan capek, tapi kan hati senang walaupun tak punya uang. ooo.. *nyanyik*

  3. waahh seruu Mak petualangannya …
    setuju banget sama kalimat terakhir, ya kehidupan asalkan kita penuh bersyukur , menikmati yang ada, menjalani dengan hati senang, insyaallah tujuan hidup pasti akan tercapai 😀

    Ngeniil yuuk :d

    • Eh, puisi bukan ya? hehe… Perasaan aslinya selama melewati perjalanan ini jauh lebih mendalam mba. Aku nggak pinter bikin puisi 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s