Eksotika Baduy Part.1 Daffa’ I love you

Pernahkah kamu bersama anakmu yang masih berusia 6 tahun, berjalan kaki 30 kilometer lebih? Di medan yang berat, naik turun bukit-bukit, melewati lembah dan sungai. Jalan setapak berbatu, tanah merah dan rumput hijau di sisi kanan dan kirinya. Serta ditambah guyuran hujan selama berjam-jam.

Aku sudah melakukannya bersama Daffa’, anak pertamaku.

Selamat datang di Baduy. Doc. Donna Imelda

Selamat datang di Baduy. Doc. Donna Imelda

Ini memang terdengar gila. Setega atau seberani itu aku membawa anakku dalam hobiku yang terkadang menantang bahaya. Setelah satu minggu perjalanan ke Baduy ini berlalu, aku masih tak percaya bahwa aku telah melewati sebuah perjalanan berjuta rasa dan makna. Alhamdulillah semua baik-baik saja. Tanpa sakit setelahnya, tanpa cidera, dan yang terpenting tanpa rasa kapok.

Dan semua peluh dan lelah, terbayar sudah saat kami tiba di kampung Cibeo. Salah satu kampung yang ada di tanah adat Baduy Dalam. Kehidupan yang damai di pedalaman. Di tengah hutan yang hijau. Mata air pegunungan bertebaran. Manusia-manusia yang ramah dan taat menjaga tradisi leluhur untuk hidup dalam kesederhanaan dan menjaga alam. Aku takjub.

*****

Berawal dari sebuah pesan singkat yang masuk di handphoneku. Dari Jack, relawan Rumah Dunia yang didirikan oleh Gol A Gong.

From: Jack +62818XXXXXX, 15-5-2013 @ 10:36

“Agenda KMRD angkatan ke-21, Sabtu-Minggu 25-26 Mei 2013, adalah “Writing Camp” di Baduy.

Start Sabtu pukul 06.00, selesai minggu 18.00. Untuk biaya transport, makan, homestay, dll. Sekitar 150 ribu. Info lebih lanjut hubungi Jack 0818XXXXXX”

Membaca SMS itu aku langsung dihampiri perasaan dilema. Sudah lama sekali aku absen dari Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD) angkatan 21 yang mulai aku ikuti sejak bulan Januari 2013. Malu rasanya hendak mengikuti acara yang diadakan setiap enam bulan skali ini. Tapi, setting tempatnya membuat aku  ngiler.

“Jack, gue ikut yah, dan gue mau ajak anak.” akhirnya terkirim juga pesan balasan dariku.

Tak lama pesan terkirim, handphone berdering. Jack menelpon. Sudah kuduga, selain bertanya memastikan tentang keikut-sertaanku dalam acara ini, Jack juga bertanya apakah aku yakin hendak mengajak anak?

Protes sejenis pun aku dapat dari relawan lain di rumah dunia. “Anak siapa nih? Yakin mau di ajak ke Baduy besok?” begitu tanyanya heran. Waktu itu malam Sabtu. Satu malam sebelum besok paginya seluruh peserta writing camp berangkat ke Baduy. Aku mampir ke Rumah Dunia untuk minta dicarikan homestay di perkampungan penduduk sekitar rumah dunia, yaitu di kampung Ciloang, Serang – Banten.

Aku heran. Mengapa mereka bertanya begitu? Daffa’ sudah terbiasa aku ajak backpacking. Saat ke Krakatau dia bisa mendaki tanpa rewel atau minta gendong. Awal Mei kemarin pun dia begitu mandiri saat ku ajak backpacking ke Singapore dan Kuala Lumpur. Aku yakin Daffa’ pun akan sanggup ikut acara besok.

Setelah diantar ke homestay oleh salah satu dari para relawan itu, aku ajak Daffa’ tidur. Stamina harus dijaga dengan istirahat yang cukup. Mengingat besok adalah hari H writing camp. Sayangnya, setelah Daffa’ tertidur aku malah keasikan ngobrol dengan dua orang teman yang tidur satu kamar denganku. Mereka adalah mba’ Donna dan Fenny yang sama-sama datang dari Jakarta dan akan ikut acara besok. Sukses kami begadang sampai jam 3 pagi dan hanya tidur satu jam saja. Lalu bangun jam 4 dan bersiap karena jam 5 subuh kami harus sudah siap berkumpul di Rumah Dunia lalu berangkat bersama-sama ke Stasiun kereta api Serang.

*****

“Ibu, kita ngapain kesini?” pertanyaan itu terlontar ketika baru saja kami serombongan masuk ke dalam hutan. Saat harus berjalan kaki untuk menuju kampung Cibeo di Baduy dalam.

“Kita kan mau ke Baduy.” jawabku singkat sambil tak lepas mengandeng tangannya.

“Mamas takuut. Nanti kalo ada harimau gimana?”

“Nggak ada lah sayaaaang.” aku menjawab lembut, sambil lalu aku acak rambutnya.

“Baduy itu apa sih Bu?”

“Nanti kalo udah sampe ibu kasih tau ya.”

Daffa’ tak puas dengan jawabanku. Tapi aku minta dia diam dan berhati-hati berjalan menapaki batu-batu yang tersusun rapi di jalan setapak dan menanjak. Ada penyesalan merasuk hati saat kami tiba di kampung Kaduketug 1. Sebuah kampung Baduy luar yang menjadi pintu masuk bagi pengunjung yang hendak masuk ke Baduy melalui terminal Ciboleger.

“Elu serius?” tadi aku terkaget-kaget di beranda salah satu rumah panggung di kampung Kaduketug 1. Saat Jack yang menjadi ketua panitia acara ini menjelaskan, bahwa dari titik ini kami akan berjalan kaki sejauh kurang lebih 13 kilometer, dan akan memakan waktu sekitar 4 jam. Aku benar-benar tidak tau sebelumnya akan hal ini. Cerita-cerita teman yang pernah ke Baduy tentang betapa beratnya medan yang harus dilalui, sepertinya menguap entah kemana. Atau aku memang tidak pernah menyimak?

Sekarang sudah jam setengah 11 siang. Harusnya kami sudah berangkat. Namun karena air sedang tertumpah dari langit, maka diputuskan untuk menunggu. Bila hujan akan reda dan kami dapat memulai berjalan kaki ke Cibeo?

Padahal aku masih merasakan penat di badan setelah perjalanan dari Serang. Dengan kereta ekonomi yang berangkat jam 6.20 pagi dari stasiun Serang hingga stasiun Rangkasbitung. Murah sekali harga tiketnya. Hanya empat ribu rupiah saja. Kereta ini beroperasi setiap hari mulai pagi-pagi sekali dari Merak hingga Tanah Abang-Jakarta, pulang pergi.

Meski berjubelan di dalam kereta, aku dan Daffa’ sangat menikmati. Hanya sebentar saja dari Serang lalu tiba di Rangkas Bitung. Lanjut dengan angkot menuju terminal Pariuk Aweh, kabupaten Lebak. Perjalanan dengan angkot ini pun hanya sebentar. Hanya beberapa menit saja. Jam 8.30 pagi di terminal Pariuk Aweh, aku dibuat takjub oleh langit biru. Awan-awan putih bergulung dan berarak. Cerah. Dari terminal ini perjalanan dilanjutkan dengan mobil elf yang membuat badanku jadi pegal sekarang ini.

Terminal Pariuk Aweh & mobi elf beratar angit biru

Terminal Pariuk Aweh & mobil elf beratar langit biru

Setelah cek and ricek oleh panitia dan memakan waktu setengah jam, berangkatlah mobil elf membawa kami ke Ciboleger. Melalui jalan beraspal yang tidak terlalu lebar, berliku, dan ngebut. Di dalam mobil yang penuh sesak dan aku sulit bergerak, selama satu setengah jam terguncang-guncang di dalam mobil elf yang merupakan angkutan umum bertarif 15 ribu per orang. Ingin tidur pun tak bisa. Tapi Daffa’ bisa saja dengan mudah tertidur. Biarlah, yang penting dia tidak rewel.

Setelah mengetahui bahwa perjalanan kedepan akan sulit. Aku hanya bisa berdoa, semoga aku dan Daffa’ akan sanggup melewatinya. Mau bagaimana lagi? Sudah sampai disini. Tidak mungkin untuk pulang bukan?

Dan aku masih yakin, akan banyak kejutan yang akan aku temui bersama Daffa’ nanti. Kejutan-kejutan yang tentu akan kami jadikan pengalaman dan bisa memetik pelajaran darinya. Seperti tadi yang aku lihat di terminal Ciboleger saat kami sermbongan baru saja turun dari mobil elf. Sekelompok anak-anak penjual tongkat menyerbu. Mereka seumuran Daffa’ sudah harus ikut bekerja mengais rejeki. Aku membeli 2 tongkat dengan harga 5 ribu rupiah. Jika hanya membeli satu harganya 3 ribu. Tongkat ini akan sangat membantu perjalanan menuju Baduy nantinya.

Kusodorkan selembar uang lima ribu kepada anak si penjual tongkat yang berbaju hijau. Sambil tangan kiriku merangkul Daffa’. Dalam hati aku bergumam. “Nak, hidup kita sulit, tapi masih ada banyak sekali yang lebih tidak beruntung dari kita.”

Anak-anak penjual tongkat

Anak-anak penjual tongkat

Sudah jam 11.30 siang. Hujan tak kunjung reda, dan sepertinya tak akan cepat mereda. Mengingat perjalanan akan memakan waktu lama, dan dengan pertimbangan takut kemalaman berjalan di tengah hutan, maka semua sepakat untuk menerobos hujan.

Ah sial! Aku tidak membawa rain coat atau pun payung. Padahal biasanya aku tak pernah lupa membawa rain coat plastik yang harganya murah meriah lima ribu rupiah. Ku tatap sesosok kecil yang selalu berada tak jauh dariku. Bagaimana dia akan melewati ini? Katakanlah aku ini ibu yang nekat, tapi tetap saja aku khawatir dia akan sakit nantinya jika hujan-hujanan dalam waktu yang tidak sebentar.

Beruntung panitia membawa beberapa trash bag yang lalu dibagi-bagikan kepada peserta. Aku sulap trash bag itu menjadi jas hujan dadakan. Ku buat lubang untuk muka kecil Daffa’, dan dua lubang lagi untuk menyembulkan lengan. Sebentar kemudian Daffa’ telah terbungkus trash bag hitam. Terlihat aneh dan lucu, tapi lebih baik dari pada kehujanan. Sementara aku cukup mengenakan rompi berhodie berbahan parasut dan anti air. Tak apa lengan dan kakiku kebasahan, asal kepala dan sebagian badanku tak terguyur hujan.

Tadi sebelum mulai memasuki hutan, aku tak lupa mengajak Daffa’ berdoa. Seperti biasa aku memeluknya, lalu mengucap “Bismillahi tawakaltu Alallah, Laahaulawalaa kuwwata illaabillah” bersama.

Selangkah demi selangkah. Kaki-kaki kami terus berjalan. Aku dan Daffa’ terus beriringan. Tangan kami pun tak lepas bergenggaman. Di antara peserta lain yang juga berjuang melawan lelah menuju Cibeo. Jalan setapak terkadang licin, terkadang berlumpur. Sandal gunung yang aku dan Daffa’ kenakan menjadi berat karena lumpur-lumpur liat itu menempel di tapak sandal kami. Sesekali ku ajari Daffa’ untuk menjejak-jejakkan sandal ke bebatuan dan rumput agar lumpur tersebut terlepas.

Satu jam berlalu. Dua jam terlewat. Capek sekali rasanya. Hujan belum mereda. Kaki mulai pegal dan nafas tersengal-sengal. Sejak mulai berjalan dua jam lalu, kami terus menjaga ritme berjalan dengan kecepatan konstan. Sesekali berhenti meski hanya beberapa menit saja untuk mengatur nafas. Jika yang lain beristirahat lama, Daffa’ justru merengek untuk tetap jalan. Dia tak suka berhenti berlama-lama. Sepertinya dia tak sabar untuk segera tiba di tempat yang hendak dituju dan mengakhiri perjalanan.

Tak heran jika akhirnya aku dan Daffa’ justru melampaui kelompok 2 dan 1 yang saat start dari desa Kaduketug, mereka berjalan lebih dulu dari pada kelompok 3 dimana aku dan Daffa’ tergabung di dalamnya. Sebenarya tindakan seperti ini dilarang oleh panitia. Sebanyak 42 orang yang mengikuti kegiatan writing camp ini sengaja dibagi menjadi 3 kelompok pasti ada tujuannya. Setiap kelompok ditunjuk seorang ketua agar lebih mudah menjaga setiap anggota dan mengkoordinasi dalam kelompok kecil. Apa jadinya jika ada 1 orang saja hilang atau celaka? Pasti menjadi tanggung jawab berat bagi ketua kelompoknya. Untung saja aku dan Daffa’ tidak mengalami satu hal buruk pun.

“Hei, mau kemana? Dari mana?” seorang lelaki yang ku panggil Bang Yulian di kolompok 1 berseloroh saat aku tanpa sengaja bertemu dengan kelompok 1.

“Mau ke mall.” jawabku sekenanya.

“Wih hebat, bisa ngebalap kita.” kali ini mba’ Donna seolah memberi pujian.

“Segini doang nih? Cuma sampe sini mampunya?” candaku sombong.

Lalu tawa kami pecah di kampung Cipondoh. Sebuah perkampungan penduduk Baduy Luar, di beranda rumah panggung milik salah satu warga yang dijadikan tempat beristirahat oleh kelompok 1. Di titik inilah aku dan Daffa’ lalu bergabung dengan kelompok 1.

“Mba’, kalo ada hal yang harus aku sesali, maka hal itu adalah keputusanku yang ngotot ngajak Daffa’ kesini.”

“Sendi lututku juga nyeri, Noe.”

Aku dan mba’ Donna lalu saling mengobrol. Seolah mengobati kerinduan setelah terpisah kelompok selama 2 jam. Ya, sebenarnya aku sedikit tidak rela dipisahkan seperti ini. Sejak pertama bertemu dengan traveler yang hobi fotografi ini pada Februari 2013 dalam acara “Travel Writer, More Than Traveling” yang diselenggarakan oleh Backpacker Koprol di Rumah Dunia, dan aku mulai rajin membaca pemikiran-pemikirannya yang dituangkan dalam blog pribadinya, aku merasa kagum padanya. Banyak pelajaran yang aku dapat setiap mengobrol dengannya.

“Ayok kita lanjut!” ketua kelompok 1 memberi instruksi.

“Daffa’ capek nggak?” mba’ Donna lalu menanyai Daffa’, dan hanya dijawab dengan gelengan kepala.

Kugandeng lagi tangan Daffa’ dan berjalan lagi beriringan. Meski nafas sudah kembali teratur, lelah sudah tak begitu terasa, namun kali ini aku dan Daffa’ lebih banyak diam. Tidak seperti tadi yang selama di jalan Daffa’ banyak bicara. Bertanya apa saja yang membuatnya ingin tau.

Bertanya ada binatang apa saja di dalam hutan. Bertanya ini dan itu pohon apa namanya. Bertanya ini dan itu suara apa. Sesekali bernyanyi lagu anak-anak. Dan tak lupa juga bertanya kapan kita akan sampai. Namun begitu, Daffa’ selalu menggeleng dan berkata “enggak” jika ditanya; “Daffa’ capek?”

Lalu bagaimanakah aku bisa mengeluh? Sementara tangan mungil Daffa’ dan aku saling bergenggaman, dan seolah ia mengalirkan energi luar biasa yang menguatkan. Daffa’, I love you.

Advertisements

57 thoughts on “Eksotika Baduy Part.1 Daffa’ I love you

  1. ckkckckck….. masyaallah…HEBATTTTT !!! salut deh buat kalian berdua, aku aja belum tentu sanggup tuh jalan segitu jauh mbak. Daffa bener2 nurunin smangat mak nya jalan ya hehehhe….
    Daffa gede insyaallah siap jadi bodyguard mama nie, Great Job Daffa 🙂

    • Insyallah.. aamiin.. makasih doanya mom. Dikau juga hebaatt… baca perjuanganmu selama hamil itu. Semoga bahagia selalu sekeluarga selamanya aamiin

    • Hehe iya. Dan rupanya itu pengaruh mindset jg sih ya. Anak2 itu mikirnya simple, klo caoek istirahat. Udh ilang capek ayok jalan lagi. Gitu terus. Aku sbnernya dlm hati jg pingin ngeluh tapi malu sama anak. Hahaha.. salam kenal mba makasih udah mampir 😉

      • Bener mbak…kayaknya memang pengaruh mindset…kalau ngeluh juga gak bakal bantu soalnya..hehe. Salam kenal juga ya mbak noe 🙂

      • Hehe.. ini udah ada lanjutannya yg part.2 klo senggang coba baca deh. Oya aku udh liat n baca2 blognya mba jg. To blm bs koment. Ini masih online pake hp jd agak terbatas geraknya 😀

    • Peluk balik buat mak Haya.. 🙂 Aamiin ya Allah. Makasih doanya maak, jadi inget history milih nama Daffa’ yang artinya adalah ‘pembela’.

    • Hehe.. umurnya 6 tahun 5 bulan. Setahun terakhir aering aku ajak jalan. Jakarta bercapek2 jalan kaki dari halte ke halte busway saat transit udah biasa. Panas2an di banten lama dari situs ke situs sering juga. Pernah diajak naik krakatau juga. Ke baduy emang paling extreme buat dia. 30km itu pp. Alhamdulillah dia kuat. Makasih ya udah mampir 🙂

    • Heboh pasti ya. Kemaren itu ujan sumpah kalo ngga ngajak anak aku pasti ngeluh2 sepanjang jalan. bahkan temenku ada yang pasrah pas turunan licin sengaja memerosotkan diri (prosotan) karena nggak sanggup jalan. hahaha yuk ke Baduy bareng 😉

  2. Kunjungan pertama sepertinya aku ke sini mba,… wow…luar biasa banget ya Daffa, gak heran karena mamanya sangat kuat. Jadi pengen jg nih nyobain backpakeran 🙂

  3. Jagoan kecil nih Daffa udah kuat jalan dan berpetualang, calon little backpacker jg nih keliatannya 🙂

    Salam kenal ya..

    • Hehehe bisa karena dipaksa emaknya 😀 tapi karena dia nggak geluh, jadi aku fikir dia suka kegiatan backpacking. Iya doain ya tante, Daffa’ jadi anak yang nggak manja. Salam kena kembali 🙂

  4. Hai mba, kunjungan pertama dan langsung terkesima sama postingan ini. Betapa dirimu emak yang nekat namun juga kuat, hingga energinya sampai ke Daffa. Salut, dan terima kasih sudah berbagi. Ada makna yang kudapat dari tulisan ini. *kiss

    • Kyaaa.. senangnya dikunjungi mak Mira. Hatur nuhun sanget-sanget maak. Bismillah, lagi belajar nulis supaya bisa bermanfaat untuk setiap pengalaman yang dibagi. makasiih mak Mira. mohon bimbingannya yaa 🙂

  5. waktunya mepet say… belum ngurusin yg kecil, maklum tanpa ART hehehe #alesan#
    Mudah2an minggu depan saya bisa ikutan. Eh… siapa aja bisa ikutan kan? (halah… ketauan ga pernah ke rumah dunia hehehe)

    • hehehe kalo Rumah Dunia mah terbuka buat siapa saja mba. dateng aja nggak usah sungkan. Sama aku jg di rumah tanpa ART. santaaaii xixixi

    • Kelas menulis ada setiap minggu jam 2. kebetulan besok bakal kedatangan tamu seorang novelis siapa ya namanya. judul novelnya “Penjual Kenangan”. Kegiatan anaknya dimana mba? siapa tau aku bisa nyusul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s