Disappeared in Malaysia Part.4 Last tragedy

Travelmateku di dalam kereta menuju LCCT

Travelmateku di dalam kereta menuju LCCT

Sudahlah, tak apa kehabisan kereta. Asalkan jangan lagi ketinggalan pesawat untuk pulang.

Dua lututku semakin lemas, melihat kereta terakhir sudah berlari meninggalkan stasiun TBS menuju KL sentral. Aku terlambat lima menit! Dengan bus terakhir yang berangkat jam 10 malam dari Malaka sentral ke Terminal Bersepadu Selatan ini, aku tiba di TBS – terminal yang fasilitasnya mirip bandara ini pada jam 12 malam kurang 15 menit. Begitu tiba, kami lalu bingung karena lupa jalan menuju stasiun kereta.

Aku yang terbius kecantikan kota Malaka di malam hari, aku lupa diri. Duduk dibangku Taman Warisan Dunia Jongker Walk, di antara tanaman yang ditata apik. Beberapa patung hewan sebagai pelengkap hiasan. Ditambah semarak pohon buatan yang daun-daunnya adalah lampu-lampu kecil berwarna hijau menyala. Aku masih menikmati suasana ini dengan terus merasakan kebahagiaan memerhatikan Daffa’ dan Abyan yang begitu cerianya berlarian dan membuat gelembung sabun.

Ini hari terakhir liburanku. Tiket pulang dari Kuala Lumpur ke Jakarta harus aku gunakan besok, Sabtu – 11 Mei 2013. Tercatat di tiket waktu depart yaitu jam 1 siang lewat 20 menit. Tiba-tiba kerinduanku akan pulang, lalu bergelut dengan keinginan untuk tetap tinggal. Ku perhatikan sekeliling, suasana masih ramai. Jam di tanganku sudah menunjukan pukul 9 malam. Aku harus meninggalkan tempat ini segera, atau aku akan kehabisan bus dari Malaka sentral ke Kuala Lumpur.

Aku berniat memanggil anak-anakku untuk berhenti bermain. Namun ku urungkan. Di dekat air mancur yang jaraknya hanya sekitar 7 meter saja dari tempat aku duduk, aku melihat seorang lelaki berperawakan kurus dan tinggi sedang mengambil alih mainan anakku. Meniup-niup stick yang dirancang sedemikian rupa oleh pembuatnya untuk menciptakan gelembung-gelembung yang lalu dikejar dan dipecah-pecahkan oleh Daffa’ dan Abyan. Siapa dia?

Sejenak fikiranku negatif. Jangan-jangan dia penculik. Tapi kemudian ku tepis. Karena jika dilihat dari penampilannya, sepertinya dia juga turis. Celana cargo pendek, kaos bola berwarna biru dan bertulis chelsea. Di punggungnya bertengger ransel warna hitam. Lampu-lampu redup, aku tak bisa melihat jelas wajahnya, ditambah mata minus dan silindris ini tanpa kacamata. Aku jadi penasaran, siapa dia yang interest dengan keceriaan anak-anakku itu. Lalu diam-diam aku menjadi papparazi.

“Hi, how do you do? I’m their mom.”

“Hi, your kids are awesome.”

Aku menyalaminya dan tersenyum mendengar jawabannya. Selanjutnya aku mengobrol singkat dan memperkenalkan Indonesia padanya. Indonesia negara yang kaya, banyak tempat-tempat cantik yang menjadi daya tarik wisata. Tak lupa aku juga sampaikan padanya kata-kata yang sekaligus aku amini sebagai doa. Aku harap, suatu hari akan dapat melihat bunga-bunga sakura bermekaran di Jepang, negara asa lelaki ini.

Setengah jam kemudian kami bersayonara. Lalu menyewa taxi menuju malaka sentral. Ongkos yang kami bayar berbeda jauh sekali dengan tarif bus yang tadi sore kami naiki. 20 ringgit untuk taxi, dan 1.5 ringgit untuk bus. Lupakan harga, berdoa saja semoga jalanan tidak macet dan tiba di Malaka sentral tepat waktu.

Suasana terminal sudah sepi saat kami tiba. Jika saat sore aku melihat terminal ini begitu ramai dengan pedagang apa saja, makanan, souvenir, baju, kerudung, bahkan gadget. Sekarang sudah tutup. Aku berlari-lari menuju loket. Aku tau dari seorang security yang tadi aku tanya. bus terakhir jam 10. Berarti aku punya waktu 15 menit lagi.

Injury time yang menyebalkan. Seorang turis laki-laki malah adu argumen dengan petugas loket. Dia bicara dalam bahasa cina, dan petugas loket yang namanya sama dengan namaku (Nurul) itu biacara dengan bahasa inggris. Aku melihat name tag yang terpasang di meja loket dan menghadap ke arah luar. Dari perdebatan itu aku mencoba mencari tau apa yang terjadi. Lelaki berbahasa cina yang membelakangiku ini tak mau menerima penjelasan Nurul, bahwa uang kembalian yang diberikan sudah pas.

Aku resah mengantri di balakangnya. Ya Allah, aku geregatan. Beberapa menit lagi, bus terakhir akan jalan. Anak-anakku yang sudah mengantuk itu lemas terduduk di lantai. Travelmateku pun mengomel-ngomel di balakangku. Aku habis kesabaran. Aku maju saja mendekati lubang kaca loket dan minta di dahulukan. Kujelaskan juga aku mengejar bus terakhir ke Kuala Lumpur. Bagus! Akhirnya aku dilayani duluan.

*****

What’s next? No train, no bus! Kami berhenti sejenak di depan bagian informasi stasiun kereta. Tanpa kata dalam kebingungan. Abyan masih tertidur diatas punggungku. Daffa’ menahan kantuk sambil memegangi gagang ransel troley kumbangnya. Travelmateku juga masih bungkam. Sepertinya dia juga berfikiran yang sama denganku.

Dan akhirnya pilihan terkahir, taxi! Sangat tidak rela melepas uang sejumlah 63 ringgit kepada supir taxi begitu kami di drop di depan Palmmer guest house di kawasan Sentral market. Uang sejumlah itu jauh berlipat-lipat kali lipat dibanding ongkos naik kereta LRT dari terminal Pudu Raya ke TBS yang harganya tidak sampai 10 ringgit. Timpang! Tapi tak mengapa, daripada tidur di terminal, kasihan anak-anakku kan? Jika tak membawa serta mereka, mungkin aku akan lebih suka tidur di terminal saja.

Jam setengah satu malam, si bapak pemilik hostel masih ramah menyambut di meja resepsionis. Tanpa basa basi, anak-anakku langsung terkapar di kasur begitu masuk kamar hostel. Aku pun sama. Tak ada lagi ritual cuci muka. Biarkan saja jika jerawat hendak bertumbuhan di mukaku.

Esoknya, tamu bulanannya perempuan memanjakan aku dan travelmateku untuk bangun siang. Packing, lalu meluncur menuju LCCT. Sebuah bandar udara untuk pesawat budget. Wajar saja jika namanya Low Cost Carrier Terminal. Untuk pesawat-pesawat mahal akan depart dan arrived di KLIA – Kuala Lumpur International Airport.

Dari KL sentral, aku membeli tiket kereta seharga 12.5 ringgit untuk dewasa, dan 6 ringgit untuk anak-anak. Total 37 ringgit untuk 2 dewasa, dan 2 anak-anak. Keretanya bagus, aku fikir mungkin seperti inilah kereta eksekutif. Seat-nya lebar-lebar, berhadapan dan ada meja di antaranya. Di sebelah seat adalah lorong tengah kereta, dan di seberang seat yang terpisah lorong tersebut, adalah bagasi berpagar besi stainless tempat meletakkan barang bawaan. Dingin, bersih, dan rapi. Menyenangkan.

Di stasiun Salak Tinggi, kami turun lalu naik bus ke LCCT. Check-in, dan menunggu jam boarding. Masih jam 10 pagi. Tak apalah menunggu, dari pada ketinggalan. Tadi di depan counter check-in di LCCT, aku sempat melihat seorang perempuan dewasa, menangis karena pesawatnya sudah berangkat. Kasihan, aku tak mau sampai seperti itu. Habis sudah uangku kalau harus beli tiket baru, dan yang pasti harganya selangit.

Di ruang tunggu ini ramai sekali calon penumpang pesawat. Kebanyakan tentu berwajah asia, dan malah orang-orang Indonesia. Para TKW yang hendak mudik. Dari obrolan mereka yang kebetulan duduk tak jauh dariku, aku mendengar. Mereka saling berkenalan, bertanya bekerja di Malaysia daerah mana, hendak pulang kemana, bertukar nomor telepon, dan berbincang hal lain tentang dunia mereka. Beberapa mereka menggunakan bahasa daerahnya, seperti Jawa dan Cirebon. Namun mungkin karena lamanya mereka tinggal di negeri Jiran, logat mereka sudah berubah.

Di sebelah kanan dan kiriku duduk Daffa’ dan Abyan, anak-anakku yang selalu lucu. Disebelah kanan Daffa’ duduk seorang ibu setengah baya menggunakan ciput. Sejenis tutup kepala yang mirip dengan topi. Di tangannya aku melihat sebuah amplop lebar yang bertuliskan hasil pemeriksaan rumah sakit. Ku lempar senyum dan di balasnya. Sementara di sebelah kiri Abyan, sepasang suami istri yang juga berusia paruh baya, duduk berdua dan berbincang dengan bahasanya sendiri. Bahasa inggris. Jutek sekali sepasang turis barat ini, setiap kali Abyan berpolah dan tanpa sengaja menyenggol kaki atau koper miliknya. Mereka langsung menoleh dan menyorotkan pandangan tak ramah. Dalam hati aku hanya tersenyum kecut. Ya, tak semua orang jatuh cinta pada anak-anak.

Sementara berhadapan denganku, seorang pemuda nyentrik umur tiga puluhan terlihat enjoy sekali dengan earphone di telinganya. Gaya pakaiannya casual, kaos hitam dibalut jas coklat tua. Dipadu dengan blue jeans belel. Aih, dia ganteng! Setiap kali habis melihat Daffa’ dia lalu melempar senyum padaku, ibunya.

“Hi, is he your kids?”

“Yes.”, aku memberi nyawa di wajahku saat merespons pertanyaannya.

“Hello, I’m Mike. What’s your name?”, dia beranjak meninggalkan kursinya, menyodorkan tangan untuk handshake kepada Daffa’ sembari menunduk.

“Ibu, dia bilang apa?”, Daffa’ mengguncang lenganku.

“Jawab aja, kan udah pernah ibu ajarin.”, aku berbisik mencoba menguatkan rasa percaya dirinya.

“Mai nem… iiis.. Daffa’.”

Daffa’ dan Mike lalu berjabatan. Aku tersenyum gembira. Ku acak rambut anak pertamaku itu.

Ice breaking yang cantik. Aku lalu memberanikan diri juga untuk mengobrol. Dari mana, mau kemana, hendak melakukan apa di Indonesia. Mike, asli California dan bekerja di Swiss, hendak mengunjungi ibunya di Depok. Dia bilang, dia baru menghabiskan satu bulan liburannya di Hongkong.

“I just wanna do.., nothing!, itu jawabannya saat aku sarankan dia untuk sesekali juga traveling melihat tempat-tempat cantik di Indonesia. Ku cetak kata nothing dengan tebal, karena dia memang mengucapkan satu kata itu dengan bold sekali. Lalu sambil memamerkan ipod bergambar buah apel yang sudah tergigit, dan dikeluarkannya lagi ipad dengan merk yang sama. Dia bilang, hanya akan berkencan dengan kedua gadget itu di rumah ibunya. Ya baiklah tuan, Anda cukup membuat saya envy kali ini. Bukan envy karena aku ingin memiliki yang seperti itu, tapi envy karena gadget ku yang hilang itu. Ah! Tragedi itu memenuhi ruang dalam dada dan otakku lagi.

Tanpa terasa, jam 12 lewat 40 menit yang aku tunggu pun tiba. Boarding time! Abyan yang sejak berada di ruang tunggu ku sibukkan dengan game sederhana yang ada di blackberryku mulai panik. Merengek dan tak mau naik pesawat. Kuyakinkan ia bahwa semua kan baik-baik saja. Dia memelukku erat dalam gendoganku. Aku tau dia masih takut, tapi kali ini jauh lebih tenang di banding 5 hari lalu yang berontak dan berlari menjauh dari pesawat.

Dia pasrah ku gendong sampai masuk ke kabin pesawat. Ku dudukkan di kursinya, lalu masih dengan tegang memeluk lengan kiriku. Kusuruh dia tidur agar tak merasakan guncangan-guncangan saat pesawat hendak terbang ke angkasa. Dan berhasil. Abyan mampu melewati penerbangan menuju Jakarta, bandara Suekarno Hatta, terminal 3. Setibanya di Soeta, bebeku ramai sekali. Pesan BBm berjubelan masuk setelah lima hari aku benar-benar dissapeared. Sambil mengantree di imigrasi keluar bandara, ku baca dan ku balas pesan penting, ku abaikan dan ku hapus broadcast yang annoying. Aku memang miss sosialita!

*****

Singkat cerita, tibalah aku di rumah. Sebuah komplek perumahan sederhada di kaki bukit gunung pinang. Daerah kramatwatu, Serang – Banten. Setelah hilang penat, ku bongkar dua ransel yang kubawa-bawa selama backpacking di Singapore dan Malaysia.

“Kyaa…! Kameraku kemanaaaa?”

Batinku menangis. Ludes sudah foto-foto itu.

Advertisements

16 thoughts on “Disappeared in Malaysia Part.4 Last tragedy

  1. Ternyata ini kisah kehilangan kamera nya 😦

    Sayang ya memory2 jalan2 nya hilang begitu saja, smoga dapat pengganti kamera nya secepatnya ya mba hehe

    • Hihihi aamiin.. sampe skrg masih ngenes klo blogwalking. Terlebih klo pas destinasi yg sama. :p doakan segera dpt pengganti. Sementara pake hp dulu deh capturenya 🙂

    • Rewelnya sih ada mba cuma gk terlalu. Karena sudah dibiasakan susah hehehe. Tp anakku y ke2 belom bener2 bisa mandiri sih kalo jalan. Ya gitu masih minta gendon kalo cape hihi 😀

  2. Wahhhhhhh kebayang H2c, harap-harap cemas. Hihihi aku pernah nunggu temen di KL sentral nggak datang-datang padahal udah bus terakhir ke KLCC. Barang-barang mereka ada di aku semua…. Akhirnya barang mereka ku bawa, orangnya tak tinggal aja hihihih

    • Hehehe sekarang udah nggak sedih 😀 pas kemaren baru pulang ya sedih ngepooll. hehe aamiin makasih doanya mbak, dan makasih sudah mampir 😉

    • Heuheu.. mba Eda, sampe sekarang masih ngenes kalo inget itu. perlu mengulang trip untuk foto-foto lagi dengan angle yang bagus, hahaha #maunya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s