Disappeared in Malaysia Part.3 Wanna go home

IMG00268-20130510-2046

Taman warisan dunia Jongker Walk

“Ibu, hari ini kita mau kemana?”

“Naik kereta gantung.”

“Yang kayak kemaren kita liat itu yah bu?”, Daffa’ pasti teringat cable car yang ia lihat di vivo city menuju Sentosa.

“Nggak mau naik keleta gantung ibuu…”

“Mamas nggak takut. Ya buk yaa.”

“Kakak takuut…”

Obrolan pagi, di kamar hostel nomor 306, lantai tiga Palmmer Guest House, Kuala Lumpur. Antara aku, Daffa’ (si mamas) dan Abyan (si kakak). Sambil membereskan bekas bungkus roti boy, sisa sarapan, yang kami beli tadi malam di Suria Mall. Roti Boy di sini harganya lebih murah daripada yang pernah aku beli di Mall Karawaci. Harganya 11 ringgit untuk lima roti boy all variance, sedangkan di Karawaci harganya Rp8.000,- per satuannya.

Jum’at 10 April 2013. Pukul 8 pagi, kami sudah siap melaksanakan misi hari ini. Pergi ke Genting hanya untuk mencoba bagaimana rasanya naik cable car yang disebut-sebut sebagai terpanjang di Asia Tenggara dan tercepat di dunia. Setelah sampai di Genting apakah akan menikmati berbagai wahana di theme parknya? Jawabannya tentu saja BIG NO! Backpacker kere seperti saya ini, sayang sekali kalo harus keluar duit banyak cuma untuk main-mainan yang sama seperti yang ada di Dufan. Setelah selesai dengan cable car, kita akan langsung ke Malaka, itu rencananya.

Terminal Pudu Raya masih sepi ketika kami tiba disana. Terminalnya bagus, terdiri dari 2 lantai. Lantai atas adalah tempat loket-loket yang melayani penjualan tiket sesuai rute bus, di lantai ini juga banyak toko-toko. Mirip mall juga jadinya. Tapi toko-toko tersebut masih tutup. Loket juga baru buka pukul 9. Aku tentu saja harus menunggu setengah jam. Setelah membeli tiket terusan one way untuk bus dan sky way (cable car) seharga 9.6 RM per orang dewasa dan 6.8 RM untuk anak-anak, kami turun ke lantai bawah. Tempat dimana bus-bus bongkar muat penumpang. Dan 30 menit kemudian, bus Go Genting pun berangkat.

Hari ini, aku ingin menikmati hari lagi. Seperti kemarin, terlupa sejenak pengalaman buruk di depan univrsal studio itu. Apa lgi setelah terbayar dengan kejadian luar biasa, bertemu orang-orang baru yang baik hati dan menyenangkan. Setelah Satya, si warga negara Malaysia yang tinggal di Singapore dan rela-relanya dia mengantarku sampe Johor. Ada lagi seorang ibu-ibu berusia 40an tahun, si pemilik toko hand bag kulit di Sentral Market, yang ternyata dia adalah orang Semarang. Menikah dengan laki-laki asli Malaysia dan menetap disini. Kami sempat mengobrol, dan ia sudah tak berencana untuk kembali ke tanah airnya. Yang ada setiap beberapa bulan, orang tuanya dari Semarang diberi akomodasi untuk terbang ke Kuala Lumpur. Tapi sesekali pulang ke Semarang saat lebaran, meski tidak setiap tahun.

Mendengar penuturannya, aku malah merasa rindu rumah. Kangen emak-bapak yang mungkin sedang mengkhawatirkan aku disini. Sementara aku tak sedikit pun memberi kabar. “Pak, Mak, aku baik-baik saja. doain aku besok bisa pulang ya.”, aku bica sendiri dalam hati.

Lalu di siang hari saat kami sedang menikmati berkeliling di dalam ruangan yang penuh dengan permaian namun sarat ilmu pengetahuan. Di Petrosains, tepat di dekat replika dinosaurus. Saat aku sedang kerepotan digelayuti Daffa’ dan Abyan karena ketakutan dengan replika dino berjenis tyrex itu, seorang pegawai petrosains perempuan menyapa dengan senyum ramah.

“Kenape budak-budak ni?”

“Dia takut sama tyrex.”, aku menjawab dan mambalas senyumnya

“Hey, tak ape la. Itu bukan sungguhan.”, ia menunduk dan memegang pundak kedua anakku.

Aku lalu berusaha mengatasi rasa takut anak-anakku. Meyakinkan mereka untuk tidak perlu takut. Keberanian mereka pun meningkat. Aku merasa terpukau sekali dengan gadis cantik yang tadi menyapaku dan anakku. Ku aja dia mengobrol. Namanya Nabila, umurnya bari 21 tahun. Mengetahui aku datang dari Indonesia, dia lalu bercerita bahwa seminggu yang lalu dia baru saja menghabiskan liburan selama 5 hari di Jakarta. Katanya, ada sahabatnya dari Kuala Lumpur yang kuliah di Trisakti. Dan dia jatuh cinta dengan Kota Bogor yang menurutnya dingin dan mirip dengan Genting. Obrolan singkat, kami bertukar nomor handphone, berfoto bersama, dan berjaji akan menjalin persahabatan.

Hidup ini kadang lucu. Orang-orang dari berbagai negara datang ke Indonesia karena daya tarik alamnya yang indah. Sekarang aku disini, dalam perjalanan menuju Genting. Kerinduanku untuk pulang semakin kuat. Lalu impian untuk taman berkeliling Indonesia pun hidup kembali.

Satu setengah jam perjalanan dari terminal Pudu Raya di Kuala Lumpur menuju Genting highland. Sesampainya di sini, kami langsung mengantri untuk naik cable car menuju genting Highland. Dalam jalur antrian yang berliku dan dipagari dengan besi stainless, aku memperhatikan orang-orang yang juga sedang antri. Ada orang lokal, orang India, Cina, bule Eropa, dan orang Arab yang para perempuannya bercadar pun ada. Sedemikian terkenalnya ya cable car di Genting ini.

Selama berada dalam cable car, menuju puncak gunung dari pegunungan Titiwangsa yang disana dibangun sebuah resort. Selama perjalanan dalam cable car, anak-anakku tegang. Ada kekhawatiran aku tangkap dari wajah mereka. Aku coba menenangkan dengan mengajaknya bicara. Menceritakan tentang pemandangan yang terhampar di bawah. Hutan tropis. Suasana menjadi rileks, lalu Daffa’ malah teringat dengan kampung kakek neneknya di Lampug Selatan. Daerah yang masih banyak pohon-pohon seperti hutan.

Sampai di puncak gunung yang telah dibangun sebuat resort ini, kami beristirahat, berfoto ria, sampai waktu menujukan pukul 1 siang. Malas makan di Genting, kami seperti dikejar hantu bernama waktu agar cepat-cepat beranjak. Malaka sudah menunggu. Selama backpacking ini aku akui, jadual makan kami berantakan. Tapi meskipun begitu, kami tetap menjaga kesehatan, dengan makan makanan apa saja asal tidak kelaparan. Roti, biskuit, buah. Nanti jika sudash sampai di tempat yang dituju, barulah mencari makanan berat. Alhamdulillah, kami tetap sehat dan bugar selama lima hari empat malam di negeri orang.

Ada yang salah dalam perjalanan hari ini. Harusnya untuk menuju malaka kami naik bis dari Genting Highland. Ini malah kami balok lagi naik cable car ke bawah, di lower skyway station. Waktu terbuanglah sudah. Mau tak mau kami harus kembali ke Kuala Lumpur. Aku tanya ke petugas penjual tiket bus, kemana kami harus pergi jika setelahnya hendak mencari bus ke Malaka? Petugas loket memberi kami tiket ke Pudu Raya. Dia bilang, nanti di Pudu banyak bus menuju ke banyak tempat, mungkin salah satunya Malaka. Kami menurut saja. Tapi setibanya di Pudu, betapa kecewanya kami karena ternyata tak ada bus menuju Malaka dari sini. Semakin sebal.

Sudah pegal kaki. Rasanya aku sudah malas melanjutkan perjalanan ke Malaka. Tapi travelmateku ngotot. “Gue pingin tau Malaka, sebentar nggak papa trus balik lagi.”, begitu jawabnya saat ku coba usulkan kembali ke hotel saja. Tempatnya toh dekat sekali dengan terminal Pudu Raya ini. Sebenarnya aku juga penasaran. Kata beberapa temanku yang pernah kesana, Malaka adalah kota tua yang cantik. Pernah juga aku baca buku “The Journey”, karya Gol A Gong. Menceritakan tentang perjalanannya di Malaka. Ah, aku jadi penasaran juga. Tak apalah, kepalang tanggung sudah sampai sini. Nanti, belum tentu aku punya uang untuk kembali backpacking ke luar negeri.

Susana sore di terminal Pudu Raya ini berbeda sekali dengan tadi pagi. Toko-toko di lantai dua terminal ini tentu saja sudah buka. Ada minimarket, ada toko penjual baju, buku, textil, oleh-oleh dan souvenir. Disinilah travelmateku pun kalap lagi belanja. Dan aku ketularan. Membeli beberapa kerudung. Baru setelah shopping yang cukup menguras dompet itu selesai, kami melanjutkan perjalanan menuju Terminal Bersepadu Selatan (TBS) di daerah Bandar Tasik Selatan. Dari terminal Pudu Raya ini kami naik kereta ke KL Sentral, lalu naik Komuter ke TBS. Dari TBS inilah kami lalu naik bus ke Malaka. Tarif bus seharga 12 ringgit. Tentu saja busnya bagus dan full ac.

Perjalanan selama 2 jam dari Kuala Lumpur. Tiba di Malaka Sentral sudah hampir magrib. Jam 6 lewat 20. Tujuan kami di Malaka adalah Jongker Street. Entah kenapa harus Jongker Street. Tapi nama tempat itu yang terus teringat di kepala, karena sering membaca di beberapa blog para traveler, dan aku jatuh cinta dengan sebuah foto becak-becak cantik dengan latar tempat Jongker Street. Kami langsung bertanya kepada par pedagang souvenir yang ada di Malaka Sentral ini, bagaimana caranya pergi ke Jongker Street.

Dengan naik bus kota nomor 17 dan membayar seharga 1.5 ringgit, sampailah kami di jognker Street. Hari sudah gelap. Menyesal sekali akhirnya kenapa sedikit sekali waktu untuk berada disini. Tempat dimana kami turun dari bus, aku melihat gereja St. Francis Xavier Church. Anakku senang berada disana, bukan karena gerejanya, tapi sebuah air mancur yang selalu saja berhasil membuat mereka excited. Berseberangan dengan gereja ini aku tertarik dengan sebuah kincir angin seperti di Belanda. Di belakang kincinr angin ada sungai, dan di seberang sungai aku melihat ada hard rock cafe.

Sementara aku terkagum-kagum dengan apa yang aku lihat, beberapa lelaki mendekati lalu menawarkan jasa becak. Waahh…, becak! Benar-benar berbeda dengan becak yang aku tau dan biasa lihat di Indonesia. Becak full music dan dihias dengan bunga-bunga warna-warni. Seperti hendak pawai saja. Ingin hati mencoba naik becak ini. Namun setelah tau berapa tarifnya. Eum.., enggak deh. haha.. 20 RM cuma buat naik becak? pfftt… cukup tau ajah! haha.. aku dan travelmateku saling pandang lalu tertawa.

Meninggalkan halaman gereja, kami berjalan menuju Jognker walk. Wow! lagi-lagi aku takjub dengan sebuah replika kapal Zheng He Ship yang berada dekat dengan gapura selama datang Jongker walk. Aku dan Travelmateku terus saja menyesali sempitnya waktu.

Di Jongker walk, tentu saja travelmateku itu lagi-lagi shopping. Dia membeli tas kulit seharga 50 RM. Sedangkan aku cuma mencoba berwisata kuliner disini. Aku beli kue berbentuk bola-bola isi durian. Lumpia juga isi durian. Sus juga isi durian. yummy… banyak juga toko mainan yang kemudian membuat Daffa’ dan Abyan merengek minta dibelikan. Uang sudah menipis. Aku belikan mereka mainan gelembung sabun seharga 3 ringgit per satuannya. Lalu duduk di Taman Warisan Dunia Jongker Walk, disana ada monumen penghargaan untuk  seorang pejabat yang karena jasanya, Jongker walk ini telah diakui sebagai warisan dunia dalam payung UNICEF.

Disanalah anak-anak dengan leluasa berlarian sambil membuat gelembung-gelembung sabun. Aku yang sudah pegal duduk saja di bangku-bangku dari batu yang ada, sambil memperhatikan mereka.

Akhirnya aku tutup postingan cerita ini dengan pelajaran baru dalam kehidupan yang aku baru sadari dan temukan dalam perjalanan kali ini.

“Sesekali kita perlu berfikiran seperti anak-anak, menikmati setiap perjalanan dengan melakukan hal-hal yang kita sukai. Maka seberat dan selelah apapun, selalu akan ada yang membuatnya terasa lebih mudah dan ringan.”

 

Advertisements

4 thoughts on “Disappeared in Malaysia Part.3 Wanna go home

    • ya mba, haha memilih disappeared, karena aku nggak benar-benar ilang. haha.. fun, sekaligus mengukir banyak kisah 🙂
      makasih mba udah mampiiirrr…

  1. Lagi2 salut deh. Berarti anak2ku manja banget ya & aku cepat ngalah. Ngeluh capek dikit, kami buru2 balik ke hotel istirahat. Aku ke Genting dr KL central. Mau ke Batu Cave aja enggak berani, takut kesorean, pdhl kami gak ada anak kecil lagi heheheeee

    • Hahaha aku jg gk ke batu cave mba. Pertimbangannya krn ada anak. Haha tp ternyata kmren diajak ke baduy dan tracknya jauh lbh susah dr batu cave. Anakku enjoy aja.
      Nggak salah kok mba, bkn soal manja atau ngak manja, kita cuma beda interest aja 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s