Disappeared in Malaysia Part.2 Enjoying trip

Central Market

Central Market – Kuala Lumpur. Credit Foto: chrisandchrisbreakfree.com

Cuaca panas, padahal baru jam 10 pagi. Check out dari hostel di dekat Pudu Raya lalu jalan kaki, mencari-cari Palmmer Guest House yang sudah aku booking sebulan lalu. Capek sekali. Keringat mengucur di sekujur badan. Beberapa kali aku mengelap peluh.

Dengan ransel hijau merk Polo Milano di punggungku yang penuh berisi pakaian. Sebagian pakaian kotor, sebagian lagi bersih. Ditambah tas selempang besar juga nangkring di pundakku, berisi oleh-oleh hasil shopping di Singapore kemarin.

Sebenarnya ini tas milik perempuan single yang menjadi travelmate ku. Dan aku memaksa membawakannya sejak keluar hostel di Pudu. Tapi mengapa? Jawabnya karena aku dan dia memang berbeda interest, jadi kami harus extra toleransi dan berempati.

*****

“Ayo, naik taksi aja.”

“Enggak deh mba, kita jalan aja, hemat duit.”

“Gimana kalo jauh dari sini?”

“Semoga enggak.”

“Kok semoga, berarti kan lu nggak yakin.”

Aku menghela nafas. Abyan rewel lagi. Daffa’ masih tegar meski dia juga terlihat berkeringat. Ku pelajari selembar kertas di tangan. Bukti booking online yang aku print untuk ditunjukkan saat akan check-in nanti. Kertas itu berisi informasi nama, alamat, nomor telepon, lengkap dengan foto dan peta guest house.

Petunjukanya mengatakan, lokasinya ada di Jalan hang Kasturi. Aku tanya kepada siapa saja yang ku temui di jalanan. Tak ada yang tau. Ah demm! Abyan menangis, dan Daffa’ mulai mengeluh minta istirahat di hotel saja.  Travelmate ku cemberut. Sejak awal dia memang tak mau jalan kaki, mengingat bawaannya yang berat sekali.

Disinilah aku menyadari perbedaan itu. Tujuanku jauh-jauh ke negara orang untuk backpacking. Menikmati suasana di tempat asing, menemukan hal baru, menambah wawasan, belajar bertahan hidup. Sementara travelmateku hobinya shopping. Maka dua hari di Singapore kemarin, dia shopping banyak. Perbedaan lain, aku lebih suka jalan kaki, kesasar lebih asyik. Ah, padahal demi ngirit duit. Tapi travelmateku, bayar pun tak masalah, asal nyaman.

Disinilah proses gesekan bisa saja terjadi. Beda interest, beda pendapat. Banyak juga yang akhirnya malah bermusuhan setelah trip usai. Sayang sekali. Aku tak mau itu terjadi.

“Yasudaah, kita naik taksi saja!”

Aku pasrah. Tak apa, sesekali menyerah pada keadaan. Kasihan Daffa’ dan Abyan juga kalau terus dipaksa jalan kaki, kesana kemari mencari alamat. Hahaha.., selalu ada yang bisa diparodikan dalam situasi tak enak sekalipun.

“Mangkanya, dari tadi gue bilang apa!”

Travelmateku berkomentar bernada kemenangan. Aku hanya bisa ‘nyengir’ saja. Ternyata, sebenarnya kami bisa mengatasi perbedaan-perbedaan di antara kami. Kemarin, aku mau menungguinya di depan mal-mal yang dia sambangi untuk belanja. Sekarang, dia mau menuruti keinginanku berjalan kaki sampai pegal kaki.

*****

Palmmer Guest House! Akhirnya ketemu juga, setelah supir taksinya pun dibuat pening karena sulit mencari alamat tepatnya. Katanya, sulit jika mencari alamat berdasar nama jalan. Banyak sekali jalan di Kuala Lumpur. Uang 10 ringgit keluar lagi dari kocek untuk biaya taxi.

Setelah menemukan guest house ini, penyesalan pun singgah. Ternyata dari Hostel yang kami singgahi jam 3 pagi tadi yang letaknya tepat berseberangan dengan terminal Pudu Raya, tinggal berjalan saja ke Central Market dan hanya butuh waktu 10 menit! Tadi kami malah berjalan ke Bukit Bintang. Huh!

“Hello, may I help you?”, seorang lelaki di meja resepsionis menyambut.

“Oh sir, why this place is so hard to find?”, aku malah protes.

“No, I don’t think so. You just need to say Central market when ask to people, then you’ll find.”

Sudah lah pak, aku nggak bisa-bisa banget bahasa inggris juga. Males deh mau debat. Udah capek juga. Aku akhirnya bicara sendiri dalam hati. Lalu ku sodorkan kertas bukti booking online kepada lelaki paruh baya, orang asli Afrika Selatan yang tak bisa bahasa melayu itu.

“Two hundred ringgit.”, katanya sambil menyuguhkan senyum.

“Can I pay with credit card?”

“No, our EDC machine is being broken. You’ve to pay it with cash.”

Errgghh… Kejadian lagi. Aku tidak menyiapkan budget untuk membayar hotel secara cash. Semua  kamar yang aku booking lewat situs online itu harus menggunakan kartu kredit. Aku tenang-tenang saja, aku fikir biaya itu akan di charge ke kartu kredit. Ternyata salah. Untung saja aku memasukkan dana cadangan saat membuat budget. Jadilah itu terpakai untuk membayar hostel yang sudah di booking di Singapore dan Kuala Lumpur.

Tanpa terasa sudah tengah hari. Sambil unpacking dan bersiap pergi di kamar yang terletak di lantai tiga (lagi-lagi lantai tiga), kami menikmati segelas energen sereal bekal dari Serang. Palmmer guest house ini suasananya asri sekali. Meski tak ada lift, tapi menapaki setiap anak tangga kami dibuat bersuasana hati senang. Tangga dari kayu dan dindingnya diberi ornament bebatuan. Beberapa bunga anggrek dalam pot tergantung rapi. Ruangan yang bersih dan pelayanan yang ramah. Sempurna.

Keluar dari hostel kami berencana mencari makan siang. Laki-laki yang aku kira resepsionist tadi rupanya si pemilik hostel, menyarankan kami untuk pergi ke Central Market yang  letaknya persis di balakang guest house ini. Benar saja, tak sampai lima menit berjalan kaki kami langsung disambut dengan gapura berwarna kecoklatan emas.

Selama berjalan kaki menuju Central Market ini, hatiku kembali teriris. Melewati sebuah konter kecil dengan etalase yang didalamnya dijajarkan kartu-kartu perdana GSM. Hiks.. Sedih hatiku teringat LG Optimus L7 dual sim yang hilang itu. Padahal tadinya aku berencana untuk membeli nomor GSM Malaysia untuk bisa berkomunikasi dengan keluaga dan sahabat yang mengkhawatirkanku selama disini.

Ingatanku masih segar sekali, bagaimana bahagianya aku kemarin pagi. Mendapat SMS dari seseorang itu, lelaki yang membuatku jatuh cinta setahun terakhir ini. Menanyakan kabar, apakah baik-baik saja? Dan berpesan untuk berhati-hati dan tetap sehat. Lalu beberapa jam kemudian, hape itu pun berpindah tangan entah ke tangan siapa. Yah, sudahlah. Mungkin akan lebih baik aku tak berkomunikasi dulu. Meski masih ada blackberry yang aku punya, ku urungkan niat ku membeli kartu GSM itu. Aku mau menikmati suasana backpackingku sekarang.

Ayamaz Roti Impit sauce barbegque @ 5 RMY

Ayamaz Roti Impit sauce barbegque @ 3.5 RMY

Di Central market lantai 2, ada food court. Disana aku memesan satu porsi nasi dengan lauk telur mata sapi dan ayam fillet goreng tepung. Harganya 5.2 ringgit. Satu porsi ini aku makan bertiga. Bukan irit, tapi karena perutku memang tidak terlalu lapar karena sudah ngemil dan minum energen tadi. Apa lagi Daffa’ dan Abyan, sebelum masuk foodcourt mereka sempat minta jajan. Ada semacam gerobak seperti gerobak kebab, menjual makanan sejenis hot dog. Anakku si penggemar sosis sonice tentu saja ‘ngiler’ karena gambar sosis besar di banner promosinya. Nama makanannya Ayamaz Roti Impit. Harganya 3.5 ringgit.

Hari berlalu begitu cepat. Selesai makan kami menuju Suria Mal, menghabiskan waktu di Petrosains dari jam setengah dua siang sampai jam 5 sore. Anak-anak senang sekali. Mereka menikmati berbagai permainan disini. Aku lega melihat mereka begitu excited. Akhirnya mereka bisa enjoy juga. Jadi ingat akhir bulan Maret yang lalu. Saking inginnya aku kenalkan kepada anak-anak tentang sains, aku ajak mereka ke Taman Ismail Marjuki (TIM). Niatnya hendak masuk ke Planetarium. Karena macet akhirnya kesorean, dan Planetariumnya sudah tutup.

Keluar dari Petrosains, travelmateku minta belanja. Dia masuk ke outlet branded, membeli tas dan kacamata mahal. Aku dan anak-anak menunggu saja di depan outlet bermerek Charles and Keith tersebut. Setengah jam kemudian, kami bergerak menuju Twin Tower. Sebuah landmark yang paling terkenal di Kuala Lumpur.

Suasana sore di taman di depan Twin Tower. Ramai turis, mulai turis lokal, turis berwajah asia seperti aku dari Indonesia, orang-orang berkulit hitam, dan turis barat yang umumnya berkulit putih, berpostur tinggi dan berpakaian minim. Semua terihat asik berfoto. Sementara anak-anakku, mana peduli dengan kegiatan semacam itu. Kuminta diam dan berpose sebentar saja susah sekali. Mereka lebih suka bermain-main dengan air mancur yang berada di tengah-tengah taman.

Selepas magrib, kami bergerak lagi meninggalkan Landmark yang ramai ini. Menuju KL Sentral. Tadinya aku Cuma penasaran, tempat seperti apa sih KL Sentral itu. Setelah sampai disana aku baru tau kalau itu adalah Stasiun kereta api sentral. Selama ini dalam mengumpulkan informasi luput mencari tau tentang hal ini. Sampai disana, kami mampir ke King Burger. Menu makan malam kali ini adalah Craby Patty. Begitu anak-anakku menyebut burger, terpengaruh film Spogebob. Dua porsi burger spicy chicken yang aku pesan seharga @ 5.9 ringgit, disajikan dengan kentang goreng dan cola. Burger untuk anakku, dan aku makan kentangnya. Hemat yang mengenyangkan. Oya, ini harga diskon. Aku lihat di papan daftar harga, seharusnya satu porsi harganya 11 ringgit. 😀

Advertisements

10 thoughts on “Disappeared in Malaysia Part.2 Enjoying trip

    • Huehehehe,,, ayok emak Gaoel, asik kaan jalan-jalan bareng anak. 😀 kata siapa anak menghalangi hobi emaknya? malah si anak biar ketularan dan punya hobi yang sama. xixixixi

  1. mbak aku suka banget loh tulisannya, cerita tentang trip sendiri tapi kayak lagi baca cerpen.. x)
    izin follow ah, biar ga ketinggalan postingan2 nya ihiiiy x))

    • Hehe iya, itu panjangnya sejengkal orang dewasa lah kira-kira. Makanya anak-anakku langsung kenyang, 😀 Hayukkk,.. mba juga psti bisa jalan sama anak 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s