Disappeared in Malaysia Part.1 Here we are

Look like I'm between twin boy at twin tower

Look like I’m between twin boy at twin tower

Menjelang pagi jam tiga lewat dua belas menit aku baru tiba di terminal Pudu Raya – Kuala Lumpur. Seharusnya jam segini aku sedang tidur pulas di Sayang heritage hotel di kawasan Jongker Street, Malaka. Hotel murah meriah dengan tarif 250 ribu per malam untuk berempat yang aku pesan via situs booking.com. Hanguslah sudah! Gara-gara hape hilang, jadi kemalamam sampai Johor dan kehabisan bis menuju Malaka.

“Mamas, kakak, ayo bangun, kita udah sampe nih”. Daffa’ dan Abyan yang tertidur pulas berdua dalam satu seat bus mulai ‘kriyep-kriyep’ setelah beberapa kali aku ciumi pipinya dan acak-acak rambutnya dengan telapak tangan. Sementara sopir bus ber-platform 39 yang kami tumpangi dari terminal Larkin-Johor Baru dengan membayar 30 ringgit ini sudah tidak sabar menunggu kami turun. Meneriaki kami untuk bergegas.

Aku, dua anakku, dan seorang lagi temanku adalah penumpang terakhir dalam bus. Seluruh penumpang lainnya sudah turun terlebih dahulu di Terminal Bersepadu Selatan (TBS) di daerah Bandar Tasik Selatan.

Sementara di depan pintu bis, beberapa sopir taxi juga sudah berisik dan menyambut kami.

“Teksi! Teksi!”

“Ayo, nak pegi mana? Ayo naik teksi saje!”

“Masih malam ni, tak  da lagi LRT.”

Dan sederetan lain kata-kata menawarkan jasa taxi dalam bahasa melayu. Tiba-tiba aku teringat suasana terminal-terminal di negaraku yang pernah aku singgahi. Suara-suara calo dan kernet yang sibuk mencari penumpang. Lalu aku cekikikan bersama travelmateku setelah berbisik dalam bahasa daerah cilegon; “Gale mah pade bae yah karo neng Jakarta” (Ternyata sama saja dengan di Jakarta).

Aku tak mempedulikan sopir-sopir taxi itu. Karena bahkan aku dan travelmate ku pun belum punya ide harus bagaimana sedini ini tiba di Kuala Lumpur.

“Jadi mau kemana kita?”

“Cari tempat makan dulu yuk, laper nih.”

“Yuk, sekalian cari tempat solat.”

Sementara aku dan travelmateku berdiskusi, Daffa’ dan Abyan masih berjuang melawan kantuknya. Bergelayut pada lengan kanan dan kiriku. Aku mengedarkan pandangan di sekeliling. Di seberang jalan tempat aku turun bus ini, ku lihat jajaran ruko dan beberapa diantaranya dijadikan hostel dengan resepsionis 24 jam. Terpampang di papan tarif per malam mulai dari 50 ringgit per orang. “Mahal!”, pikirku. Ku urungkan niat untuk masuk hostel dan beristirahat hingga pagi. Toh, sebentar lagi juga matahari terbit.

Beberapa toko dan klinik juga terlihat masih buka. Lalu mataku berhenti mencari saat terlihat di ujung jajaran ruko tersebut adalah rumah makan tom yam 24 jam. Tom yam, jenis masakan dari seafood asal Thailand yang banyak dijual di Malaysia.

“Apa kali, plang-nya mah rumah makan halal tapi mushola aja nggak ada!”

Travelmateku menggerutu. Setelah susah payah menjelaskan bahwa kami sedang mencari tempat solat kepada orang-orang berwajah india yang melayani kami. Mereka tak mengerti. Kami pun tak faham, apa sebenarnya sebutan mushola disini? Sudah bilang masjid, mosque, mushola, praying room, mereka tetap tidak faham. Setelah bilang “a place for moslem to pray to god”, baru mereka mejawab; “Tak da surau dekat sini.”

“Gimana kalo kita sewa kamar aja di hotel sebelah, yang penting bisa solat deh”, saranku pada travelmateku dan disetujuinya.

Seandainya aku tidak membawa serta dua anakku ini, aku pasti lebih memilih menghabiskan waktu di tempat makan sambil menonton siaran televisi. Di sudut atas ruangan, ada tv lcd yang dilekatkan dengan dinding. Ukurannya 32 inchi. Beberapa laki-laki sedang asik menonton bola. Meski tak begitu suka nonton bola, pasti aku akan memilihnya dari pada menggunakan uang untuk menyewa kamar dan hanya beberapa jam.

“Ibu, kok malah kesini? Ke Hotel aja sii.”

“Iya, sebentar kita makan dulu.”

“Nggak lapeer, pingin tidur aja.”

Daffa’ mengeluh tadi, begitu masuk ke rumah makan ini dan mengajaknya duduk. Sedangkan Abyan mengeluarkan suara-suara tangis rewel dan manja. Errgghh…, aku pusing juga! Tapi harus sabar. Ini bukan salah anak-anak, salahku yang telah mengajak mereka menggembel seperti ini. Istighfar dalam hati. Sambil duduk di kursi plastik, aku mendekap Abyan. Ada rasa bersalah merasuk.

“Sayang, mau makan?”

“Atau minum teh?”

“Oh, susu milo aja ya?”

Akhirnya anak-anakku mengangguk juga. Setelah terus menggeleng dengan semua tawaranku sebelumnya. Aku juga tak bernafsu untuk makan di dini hari seperti ini. Aku hanya memesan segelas teh O panas, dengan sedikit gula untukku, dan 2 gelas milo untuk anakku. Di Malaysia, jika memesan teh atau kopi tanpa huruf O, maka yang akan dihidangkan adalah teh atau kopi susu. Harganya segelas 1.5 RM, sementara segelas milo seharga 2 RM.

Travelmateku memesan martabak daging. Penampakannya seperti martabak har di Palembang. Disajikan dengan kuah kari dan saus sambal. Harganya 7 RM. Porsinya besar sekali. Jadi aku diminta untuk ikut membantu menghabiskannya. Yah, mau tak mau. Aku santap saja.

Martabak ludes. Gelas teh manis pun sudah kosong. Kami sengaja makan dan minum dengan cepat agar segera cek-in ke hostel dan merebahkan tubuh-tubuh lelah si dua anakku. Sementara 2 gelas milo masih utuh. Daffa’ dan Abyan tak mau menyentuhnya karena masih panas. Akhirnya kumasukan dua gelas milo itu ke dalam botol air mineral yang sudah kosong, bekal dari Singapore.

Setelah cek-in di hostel yang letaknya persis bersebelahan dengan tempat makan tadi, dan membayar sebesar 100 RM untuk satu kamar private untuk 4 orang dan kamar mandi di dalam, kami diantar ke kamar yang letaknya di lantai 3. Untung saja hostelnya punya lift untuk menghubungkan setiap lantai, jadi tak perlu capek naik turun tangga.

Sambil menggendong Abyan dan menuntun Daffa’ aku memasuki lift. 3 ranselku dibawakan oleh petugas hostel yang mengantarku. Dan begitu lift bekerja hedak membawa kami ke atas, gerakan liftnya membuat Abyan terkaget dan takut. Lift ini bekerja tidak smooth. Abyan memelukku erat dalam gendonganku. Menangis dan berteriak takut. Semenit kemudian, begitu sampai di lantai 3 yang kami tuju, Abyan dikejutkan lagi dengan berhentinya lift yang begitu terasa.

Aku jadi teringat saat di bandara Soekarno Hatta terminal 3 sebelum terbang ke Changi 2 hari lalu. Awalnya Daffa’ dan Abyan begitu antusias dan senang sekali. Akhirnya aku akan naik pesawat! Selama ini mereka hanya melihat pesawat terbang di ketinggian. Seperti dulu aku masa kecil. Daffa’ dan Abyan pun berteriak-teriak setiap kali melihat pesawat terbang. “Pesawaaatt…!”. Dan sepertinya anak-anakku pun penasaran, sehingga acap kali mengajakku untuk naik pesawat. Aku mengiyakan. Karena keinginan anak-anakku inilah aku setahun yang lalu memberanikan diri membeli tiket Air Asia untuk tebang ke Singapore, dan pulang dari Kuala Lumpur.

Ini adalah pengalaman pertama naik pesawat terbang, buatku, juga buat anak-anakku. Aku fikir, ini pasti akan sangat menyenangkan. Setelah delay 1 jam, terdengar juga pengumuman perhatian kepada calon penumpang Air Asia menuju Changi International Airport untuk bersegera naik pesawat. Aku kemudian ikut beriringan berjalan bersama para penumpang lain. Melewati petugas yang memeriksa tiket dan nomor kursi, keluar ruang tunggu, lalu menuju pesawat yang warnanya dominan merah itu.

Selangkah demi selangkah. Kami semakin dekat dengan pesawat. Suara bising semakin memenuhi telinga. Sumbernya tentu saja dari baling-baling yang ada di bawah sayap pesawat. Tiba-tiba Abyan ‘mogok’ jalan. Mukanya pucat. Dan menangis.

“Ibu, ayok pulang aja.”

“Loh, kenapa? Kita kan mau naik pesawat.”

“Nggak mau naik pecawat ibu…, Takuut!”

Abyan menangis menjadi-jadi saat aku coba meraih tanggannya dan mengajaknya berjalan menuju pesawat. Dia melepas gengaman tanganku lalu berlari menjauhi pesawat. Aduh! Aku panik. Aku mengejarnya. Aku tak ingin dia semakin jauh dan sulit diraih. Apa jadinya kalau aku ketinggalan pesawat. Konyol!

Daffa’ yang sudah lebih dulu berada di tangga pintu masuk pesawat menungguku. Dia terlihat susah payah membawa ransel troley. Sayang aku tak bisa membantunya. Aku saja sudah cukup kerepotan menangani Abyan yang terus mengamuk dalam gendonganku. Berontak hendak melepaskan diri dan berlari lagi. Aku rasa dia ketakutan dengan baling-baling bising itu.

“Daffa’, naik duluan. Cepet!”, teriakku saat aku sudah dekat dengan tangga di pintu masuk pesawat bagian depan. Daffa’ menurut. Ransel seberat 5 kilo yang manjadi tanggung jawabnya dia angkat juga dari satu anak tangga ke satu anak tangga di atasnya, diletakkan, lalu kakinya naik, lalu tas diangkat lagi, di letakan lagi ke anak tangga yang lebih tinggi, lalu melangkah naik lagi. Begitu terus, bergantian, sambil berjubelan dengan penumpan lain yang juga hendak naik ke pesawat.

Lega sekali aku setelah berhasil membawa Abyan masuk ke dalam pesawat dan duduk. Selama setengah jam dia terus saja menangis, berteriak-teriak, ketakutan. Duduk di kursinya sendiri, dia memeluk lengan kiriku. Bersembunyi di balik ketiak. Aku mencoba menenangkannya dengan membalas memeluknya. Gara-gara Abyan yang ketakutan seperti ini, aku jadi terbawa suasana. Aku juga takut jadinya. Teringat beberapa tragedi kecelakaan pesawat. Tapi sekuat hati aku mencoba tetap tersenyum, aku tak boleh terlihat berekspresi ketakutan juga. Atau Daffa’ juga akan ketularan ketakutan. Repot lah nantinya.

Ya, Here we are, baby! Kita sekarang di Kuala Lumpur. Saat-saat menegangkan di pesawat menuju Singapore sudah terlewati. Lift yang mengejutkan pun pasti berhasil kita taklukan. Tidurlah yang nyenyak. Nanti jam 10 pagi kita bangun dan bersiaplah jadi gembel lagi. 🙂

Advertisements

8 thoughts on “Disappeared in Malaysia Part.1 Here we are

    • Kemaleman mba, pas sampe Johor udah diatas jam 9. Bus ke Malaka kalo gk salah paling terakhir jam 8 malem. yo wes bablas ke KL dulu. ke Malakanya pas hari 2 di KL. hihi belum rampung nulisnya :p Makasih loh mba udah mampir 😉

  1. Waaaah aku enggak berani kayak gitu Mak. Semua sudah harus on its place & sdh dibooking. Apalagi bawa anak2. Ke Jakarta aja enggak mau malam2 belum jelas status transportasi atau penginapan, apalagi di negeri orang heheheee… Berani banget ya?

    • Trip ini sudah direncanakan setahun sebelumnya, tapi ya itu, direncanakan untuk seperti ini keadaannya. haha.. dan untuk membiasakan ini, aku ajak anak-anak jalan ke Jakarta. Kalo ngantuk bisa numpang tidur di warteg sambil beli teh manis. Jalan kaki dari halte busway ke halte transit lain. Alhamdulillah.. anak-anakku jadi terbiasa capek. wkwkwk *ibu yang jahat*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s