Asem manis rasa trip Singapore Part.2 Equilibrium in Life

“Thank you very much, you’re so kind. May Allah always bless you.”

Begitu kira-kira kalimat terakhir yang terucap saat berpisah dengan orang yang baru saja aku kenal. Malam mulai larut. Ku lirik jam tangan, sudah jam sepuluh lewat dua puluh enam menit. Aku sempat berdada-dada (melambaikan tangan) pada laki-laki baik hati itu. Lalu bus pun melaju, meninggalkan terminal Larkin – Johor Baru, menuju Kuala Lumpur.

Dalam perjalanan malam itu, 8 Mei 2013, aku berusaha memejamkan mata. Sementara Daffa’ dan Abyan sudah terlelap di kursi bus yang bisa dibilang sangat nyaman jika dibanding dengan bus Jakarta-Merak seat 2-3 yang bisa aku naiki. Bus Johor – Kuala Lumpur ini kursinya lear-lebar, sehingga seatnya hanya muat 2-1 saja. Rupanya aku malah sulit tidur, meski rasanya badan sudah lelah setelah berjalan-jalan seharian di Sentosa Island dan beberapa kawasan di Singapore. Aku terus saja masih tak habis fikir. Tentang laki-laki misterius yang sulit aku percaya. Mungkinkah dia jelmaan malaikat?

******

"ibu, kita nonton dinosaurus yuuk." - "Nggak usah, kita foto aja. Nonton di rumah juga bisa."

“Ibu, kita nonton dinosaurus yuuk.” – “Nggak usah, kita foto aja. Nonton di rumah juga bisa.”

Tak mengapa hilang handphone, asalkan tak kehilangan kamu.. 🙂

Hari masih terbilang pagi. Sekitar jam 11. Ya kalau di Indonesia, sekarang masih jam 10 kan? Tapi sudah ramai orang disini. Susah sekali ingin berfoto sendirian saja tanpa di ganggu orang-orang yang juga asik berfose disana-sini, dan ikut masuk frame di lensa kamera ku. Sementara anak-anakku excited sekali. Berlari mengitari bola biru raksasa itu. Aku minta diam sebentar untuk berfoto pun tak mau. Sebelum berfoto, aku sempat duduk di sebuah bangku berkeramik di salah satu sisi di depan universal studio. Capek juga menggendong ransel kesana kemari. Aku turunkan ransel parasut merk REI dari punggungku. Ku istirahatkan pundak sejenak. Ku keluarkan ponsel android dari saku celana cargo, lalu mencoba searching koneksi wifi. Kangen juga main internet.

“Nu, fotoin doong.”, travelmate ku berteriak dari dekat bola biru itu. Spontan ku letakkan handphone di dekat tas. Beranjak meraih kamera dari tangan teman ku itu.

Dirasa cukup dengan foto-foto. Perut sudah lapar. Sudah jam 12 lewat 23 menit.

“Eh, anak gue mana yah?”, aku bertanya entah pada siapa. Setelah melirik jam tangan.

“Tuh tuh disana.”, travelmate ku menyahut.

Secepat kilat aku menyambar ransel di bangku tadi, lalu berlari mengejar dua bocahku yang sedang berdiri di depan poster film dinosaurus di dinding-dinding loket universal studio. Aku gandeng tangan mereka, lalu ku ajak berjalan mencari warung makan atau restoran. Perut harus diisi dulu. Tapi sayangnya aku tak menemukan tempat makan yang sesuai selera. Inginnya fast food, atau makanan halal seperti malaysian food. Yang ada restoran ala-ala cina. Akhirnya nyangkut di Seven Eleven, atau disingkat sevel. Sebuah minimart seperti indomaret atau alfamart jika di Indonesia. Beli pocari sweat dan beberapa roti. Mari mengganjal perut sebelum bertemu makanan berat!

Kami duduk di bangku-bangku yang disediakan di depan sevel. Suasanya asri, sebuah taman kecil. Dan disaat santai seperti itu, tanganku pun otomatis merogoh kantong celana cargo. Bermaksud mengambil android untuk sekedar memeriksa layar, siapa tau ada sinyal wifi.

Tragedi! Tidak ada android di saku celanaku! Aku berusaha mengingat-ingat. Pasti tertinggal di bangku dekat universal studio tadi. Aku segera berlari memeriksa, berharap menemukannya disana. Kutitipkan dua bocahku kepada si travelmate. Sayangnya hp itu sudah raib.

“Dek, liat hape ketinggalan disini nggak?”, kucoba tanya kepada seorang anak laki-laki umuran belasan tahun yang tadi aku dengar berbicara bahasa dengan ibunya. Aku hanya menerima jawaban gelengan kepala. Lututku tiba-tiba lemas. Kujatuhkan diri ke bangku yang tadi aku letakkan ransel di atasnya. Kepalaku pusing. Mencoba tenang dan berfikir. Semenit kemudian aku mendapat ide.

Aku berlari mendekati bagian informasi universal studio. Kuceritakan masalahku. Aku disodori selembar formulir untuk diisi. Form pengaduan kehilangan! Sambil menjawab beberapa pertanyaan dalam kertas itu, apa yang hilang?; warna?; waktu?; tempat?; dan lain-lain. Aku terus berharap hp itu bisa ditemukan. Ku kembalikan formulir yang sudah terisi itu pada petugas. Lalu aku hanya diberi kartu nama yang berisi nomor telepon customer service universal studio. Setelah sebelumnya ditulisi oleh petugas dengan pulpen, nomor kasus pengaduanku.

What? cuma begini saja? Aku coba berbicara dengan petugas-petugas berwajah oriental itu. Dengan bahasa inggris terbata-bata aku bertanya, apakah ada cctv di daerah hilangnya hp-ku? Jawabnya tidak ada. Bingung lagi lah aku ini. Firasat buruk merasuk. Ah, rasanya sudah tidak mungkin menemukannya lagi.

Apakah tidak bisa dilakukan upaya lain? Polisi misalnya, minta dia memeriksa satu persatu pengunjung pulau ini. Ini ide gila yang aku sampaikan ke petugas yang cuma memasang wajah prihatin itu. Lagi, aku hanya mendapat gelengan kepala dari mereka.

“Could you please make a voice call to my number? I hope someone who take away my phone would answer then give it back!”, aku mengucapkan ini dengan mimik permohonan. Seandainya saat itu aku bisa melihat wajahku sendiri, pasti terlihat memelas sekali. hih!

“Your phone is ringing, but so sorry, there are none who answer.”.

Mendengar jawaban itu aku semakin lemas saja. Baiklah, harus iklas. Aku harus pergi dari pulau ‘sialan’ ini. Tapi telapak kakiku masih saja tak mau beranjak, rapat dengan bumi. Petugas-petugas itu masih saja memasang wajah prihatin, dan kami saling diam. Seperti suasana sepasang kekasih yang hendak berpisah tapi tak mau. Beberapa menit kemudian, datanglah seorang laki-laki berwajah melayu. Kulitnya sawo matang, rambutnya dicukur cepak seperti tentara. lalu mendekatkan wajahnya ke arah kaca pembatas antara ruangan petugas dan pengunjung dan bicara dengan bahasa yang tidak sulit untuk dipahami.

“Mak cik, maaf jika tak bise banyak membantu. Barang macam tu jika dah diambil orang, sukar nak balek lagi. Tapi kami akan hubungi mak cik bila dah ditemukan.”

Setelah mengucapkan terima kasih, aku melangkah gontai menemui anak-anakku yang masih menunggu di depan sevel. Sudah jam 2 siang. Habis waktu untuk mengurusi masalah ini. The show must go on. Ayok, kita lanjutkan rencana. Balik ke kota, menggembel lagi. Memilih monorail untuk kembali ke Vivo City mall adalah pilihan bijak, setelah capek lari kesana kemari mencari hp yang hilang. Lalu langsung menuju little india untuk makan siang. Ada food stall dan banyak penjual makanan halal. Nasi goreng ikan bili, makan siang pilihan di antara banyak sekali ragam makanan. Dari makanan halal ala India, Malaysia, Thailand, bahkan cendol dan bakso Bandung pun ada. Harga per porsi rata-rata 3 sampai 5 dollar.

Selesai makan dan sholat, lanjut lagi ke Chinnatown, Orchard dan Bugis. Terus berjalan, bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Dengan perasaan gamang. Masih diliputi rasa sedih kehilangan hp. Disaat-saat seperti ini, Daffa’ membuat penyataan mengharukan. Sangat menghibur.

“Nggak papa ibu, hapenya udah ilang. Nanti beli lagi aja ya kalo udah punya uang.”, begitu katanya sambil mengunyah sosis goreng saat mampir makan siang di little india. Daffa’ memang anakku yang sangat bisa diandalkan dalam membesarkan hati ibunya. Teringat saat mengajaknya Backpacking ke Krakatau bulan maret lalu. Ah, terimakasih ya Allah, Kau kirimkan padaku seorang anak bernama Daffa’ ini. Aku cuma tersenyum simpul. Lalu mengusap kepala kedua bocahku itu.

Jam 6 sore kami sudah di Lavender, setelah menyelesaikan semua daftar tujuan di Singapore ini. Hari masih terang. Kalau di Indonesia pasti sudah mulai gelap, dengan semburat-semburat jingga di langit, pertanda matahari segera tenggelam. Tapi di Singapore, ini bukan magrib, sekarang masih dibilang sore. Aku berencana naik bus dari lavender, ke terminal Larkin, Johor Baru – Malaysia.

“Jadi Shuttle bus-nya dimana?”

“Gue juga belom tau tepatnya, tapi kata temen-temen ada di daerah sini.”

“Iya, tapi dimana?”

“Ntar kita tanya-tanya orang lagi deh.”

Aku, dan Mba cantik dari Cilegon yang jadi travelmate ku ini sudah sama-sama capek. Dari tadi berputar-putar di sekitar stasiun MRT Lavender cari shuttle bus yang ke terminal Larkin tapi tidak ketemu juga. Tanya-tanya orang disana pun tidak ada yang tau. Kepada pedagang minuman, kepada satpam hotel, kepada orang lewat, aku bertanya dan semua menjawab sama. “Go to Woodland with MRT, then you’ll see there.”

Antara putus asa dan kelelahan. Kami berempat duduk di trotoar. Di pinggir jalan sebuah perempatan. Hari mulai gelap. Mobil-mobil lalu-lalang. Pejalan kaki pun begitu tergesa, mungkin ingin segera pulang setelah bekerja. Aku sudah tak berniat bertanya lagi. Yang ada dalam fikiranku, kita ke Woodland saja!

Dan pertolongan Allah pun datang. Seorang laki-laki berperawakan kurus dan tidak terlalu tinggi terlihat berdiri di seberang jalan. Sepertinya sedang menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki menyala, lalu menyeberang jalan. Benar saja, dia menyeberang. Begitu tiba di sisi jalan satunya, tepat dimana aku duduk, aku menyetopnya.

“Excuse me, would you please help? Do you know where is shuttle bus around here? I wanna go to Johor.”

Tebak dia menjawab apa? Woodland! Yeah.., lagi-lagi Woodland! Dalam hati kesal sendiri.

“But sir, my friends who’ve been here said that the bus is there around Lavender!”, aku mulai ngeyel.

Tapi laki-laki ini malah mengeluarkan handphonenya, mengajukan interupsi dari ocehan ngeyelku, lalu menelpon entah siapa dan berbicara dalam bahasa India. Tak lama kemudian, handphone nokia jadul itu dimatikan dan dikantonginya lagi. Lalu berbicara dalam bahasa melayu kepadaku. Aiih, sebenarnya dia orang apa? Wajah India, tinggal di Singapore, bahasa melayu. Aku malah keheranan dan mempeributkan etnis dalam hati.

“Adek ikutlah saye ke kantor saye bekerja dekat situ, nanti saye tanya teman di kantor. Ade tak bas to Johor dekat sini.”, laki-laki itu menujuk ke arah dari mana tadi dia datang. Aku menurut saja. Mengikuti langkah kakinya. Meski sebenarnya muncul sedikit kekhawatiran. Jangan-jangan dia orang jahat.

Sampai di kantornya, sebuah perusahaan expedisi internasional. Aku menunggu di luar saja. Dia masuk lalu berbicara pada customer service. Aku hanya bisa melihat gerak tubuhnya dari luar melalui kaca transparan. Tak lama, dia keluar lagi.

“Teman saye pun cakap. Bas to Johor ada di Woodland. Ayo, saye nak antar adek sampai Johor saje.”, demi mendengar itu aku hanya terkejut setengah mati.

~Sehabis musibah, datanglah pertolongan. Equilibrium in Life ~

Advertisements

23 thoughts on “Asem manis rasa trip Singapore Part.2 Equilibrium in Life

  1. Catatan perjalanannya enak dibaca, suka banget. Untung ya ada bapak-bapak baik hati itu… Kapan-kapan kalau ke Singapore lagi, kontak-kontak ya… Ntar aku ajak ke tempat-tempat yang murce atau gratisan tapi disukai anak-anak;)

    • hihihi iya, itulah yang namanya sengsar membawa nikmat. kedepannya akan lebih waspada dan hati-hati 😉 makasih sudah mampir maaak

      • hiyaaa…langsung ditantangin 😀

        di indonesia aj baru skali ngajak anaknya, masa langsung ke thailand..

        dirimu uda pernah kemana aj sm anak buw?

      • wkwkwk… nggak nantang, cuma ngajak 😉
        kemana aja sama anak? terjauh ya kemaren ke Sin-KL, selain itu paling sekitaran banten, Jakarta, Lampung. yang deket-deket 🙂

      • pengeeen mba.. kmrn dr kawah putih bdg lanjut kota tua jkt.

        biasanya tiap taun ada agenda travelling sm temen2 yg kenal lewat kaskus..

        taun lalu jogja, kmrn jkt-bdg. taun depan inshaAllah Malang-Batu..

        yuk ah mba.. barengan kita.. tp rencana hrs dr jauh2 hari.. g bisa sering2 kek dirimu 😀

      • Hehehe.. aku sebisa mgkin sebukan sekali jalan. Tapi ya yg cuma sabtu mgu aja pas libur krj. Iya.. kaskus emg keren komunitasnyaa 😉

      • mbaaa… sebulan sekali? gak salah tuh?

        berat di ongkos klo saya.. sby g ada tmpt bagus, mesti keluar kotaa 😦

        hihihi..emak-emak bgt kann.. sayang duitnya 😀
        tp klo sdh hobi, ya mau gimana lagi yah 😉

      • hehehe… begitulah :p namanya hobi, yang penting menjaga keseimbangan keuangan rumah tangga. hehehehe

  2. tuuuh kan rejeki mah ada aja ya mbak,
    alhamdulillah, dan good people do exist!
    jangan kapok 🙂

    btw kalo naik bus dari Sin ke Johor itu cek aja di halte bis terdekat, ada jalur bis se-singapore dan nomer bisnya. Ke Johor bisa naik SBS Transit 160 atau 170.

    • hehe iya Len, itu orang baik banget. bukan cuma nganter tapi ransel2 pun dia yang bawain :p

      haha.. iya sih jujur aja nih ngaku, info bis memang luput dari konsentrasi pas nanya2 sebelum brgkt. wkwkwk dengan pedenya disana ternyata bingung sndiri. tq Len..

  3. merinding, sedikit meweks di episode “the kids, membesarkan hati ibunya”, persis perasaanku saat di police office spore, Rani bilang “gak apa2 kok bun aku gak ke Universal Studio, nanti ada rezeki lagi, kita balik lagi kesini. (meweks beneren nih pas ngetik)

    • Iya yah mba… celoteh anak-anak itu kadang bikin mrebes mili. haru… dan moment-moment kaya gini lah banyaak banget pelajaran berharga yang nggak kita dapet di bangku sekolah. 🙂 *tetap bersyukur*

    • Salam kenal mba Dian 😉 hehe iya… sebelumnya dibiasain dulu menggembel di sekitaran Banten, Jakarta & Lampung. semoga nanti bisa ke Batam yaa.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s