Asem manis rasa trip Singapore Part.1 First Impression

Ini Merlion di Singapore, bukan Cina, bukan India.

Ini Merlion di Singapore, bukan Cina, bukan India.

Singapore. Kota yang sibuk. Aku menjulukinya sebagai negara eskalator. Negara kecil yang katanya hanya seluas kota Jakarta, dengan alat transportasi massa yang membuat aku tercengang-cengang. Seandainya Jakarta punya MRT juga. Mass Rapid Transit, begitu kepanjangannya. Aku lebih suka menyebutnya kereta. Stasiun-stasiunnya yang ber-AC, keretanya pun ber-AC. Semua dingin.

Bukan Cuma nyaman, tapi juga aman. Jika biasanya menunggu kereta di ruang terbuka, dan untuk naik kereta pun dari semacam pedestrian yang terbuka dan langsung berbatasan dengan rel. Kebayang? Aku pernah nonton berita TV, seorang ibu yang sedang berdiri di stasiun kereta dan membawa serta bayinya dalam kereta dorong. Terekam di sebuah cctv, si ibu sibuk mengangkat telepon gengam. Lalu kereta api datang dan menimbulkan getaran. Tanpa disadari, kereta bayi bergerak seiring getaran yang ditimbulkan oleh kereta api tersebut. Dan…, jatuhlan kereta bayi itu ke rel kereta api dan tertabrak. Dash!

Di Singapore, aku rasa hal semacam itu tidak akan terjadi. Karena ada dinding kaca tebal yang membatasi ruang tunggu penumpang dengan rel keretanya. Pintu-pintu penghubung ruang tunggu dengan keretanya pun tertutup rapat. Hanya akan otomatis terbuka jika kereta sudah benar-benar berhenti. Pintu-pintu keretanya juga buka-tutupnya secara otomatis. Jadi setelah kereta tiba di stasiun, pintu kereta terbuka, lalu diikuti dengan terbukanya pintu penghubung stasiun. Dahulukan penumpang yang turun dari kereta, baru penumpang yang akan naik kereta menyusul masuk. Tidak ada desak-desakan di pintu. Pintu stasiun yang menghubungkan dengan kereta, ukurannya sama dengan pintu keretanya. Jumlahnya pun sama, jadi misalkan kereta punya 10 pintu, maka pintu penghubung di stasiun pun ada 10. Ah, keren!

Eskalator, eskalator. Banyak eskalator di setiap stasiun. Mungkin karena MRT ini ‘berkeliaran’ di bawah tanah, jadi pintu masuk stasiun MRT sudah pasti dari atas darat. Jadi setelah melewati portal pintu masuk stasiun, calon penumpang harus turun ke bawah, ke ruang tunggu kereta. Dan keheranan pun singgah lagi di kepala. Sebegitu sibuknya negara ini, hingga orang-orangnya pun tak ada yang berjalan lenggang kangkung. Bahkan di eskalator, mereka masih berlari!

Dua hari satu malam di Singapura. Dimana-mana aku melihat banyak orang berwajah India dan Cina. Hanya beberapa terlihat wajah melayu. Oya, turis kulit putih dari barat juga banyak. Di negara inilah, aku benar-benar-benar-benar practice English. Sampai-sampai kalimat ini meluncur dari mulut Daffa’, “Ibu, nanti ajarin bahasa inggris yaah.”

Ah, Daffa’ dan Abyan ini. Kadang membuat aku merasa bersalah. Jalan-jalan selayaknya merupakan kegiatan senang-senang. Tapi bersamaku, mereka harus ‘menggembel’. Hanya datang ke landmark-landmark untuk berfoto!

Hari pertama tiba di Changi airport, 7 mei 2013, jam tiga lewat lima menit waktu Singapura. Setelah pesawat delay satu jam berangkat dari Bandara Internasional Soekarno Hatta, terminal 3. Hari sedang hujan rupanya di negara tetangganya Indonesia ini. Baru sadar kalau hujan sedang mengguyur bumi setelah sampai di daerah Kallang dan keluar dari stasiun MRT. Maklum saja, keluar dari pesawat di Changi Airport, para penumpang dimanjakan dengan pintu yang langsung terhubung dengan lorong ber-AC yang nyaman menuju ke dalam Airport. Lantai lorong brkarpet dan bersih. Di salah satu sudut lorongnya aku melihat seorang polwan. Dari wajahnya aku bisa menebak dia keturunan india. Tetapi yang membuat saya bergidik serem saat melihat kumis dan berewok di mukanya. Rrrr…

Changi airport ini keren! Eskalator pertama yang aku lihat di Singapore, ya di bandara ini. Eskalator naik turun sudah biasa. Eskalator di lantai datar pun ada. Aiih.. dimanjakan sekali. Kalau tidak ingin capek jalan. Ya berdiri diam saja di atasnya.

Saatnya menyudahi keheranan di dalam bandara. Aku mulai mengantri di imigrasi. Dag dig dug rasanya. Teringat cerita-cerita teman dan kenalan yang pernah backpacking pertama kali ke negara ini. Katanya petugas imigrasinya jutek. Banyak nanya. Kalau jawabannya salah-salah, suka dipersulit dan dimarahin. Kok jadi seperti ujian lisan di bangku sekolah, apakah jika salah juga akan dihukum berdiri di depan kelas dengan satu kaki dan dua tangan menjewer kuping sendiri. Ah, aku makin paranoid.

Berusaha tenang, se-kalem mungkin saat giliranku tiba. Ku sodorkan 3 paspor dan 3 lembar kartu putih yang dibagikan di pesawat tadi. Sudah ku isi dengan data sesuai yang diminta untuk keperluan imigrasi. Pasang senyum dan menatap petugas yang sibuk membuka-buka pasporku dan anak-anak.

“Siapa dua budak ni?”

“Anak saya.”

“Yang mana Abyan?”, tanyanya lagi. Lalu ku gendong Abyan dan menunjukan wajahnya ke petugas yang duduk dalam kotak tertutup berwarna putih dan terlalu tinggi untuk ukuran tubuh Abyan yang masih 4 tahun.

“Yang mana Daffa’?”, aku angkat tubuh Daffa’ agar wajahnya bisa dilihat oleh petugas imigrasi.

Cetok! Cetok! Cetok! Stempel imigrasi pertama pun sudah mampir di pasport kami bertiga. Segampang itu? Aku kegirangan dalam hati. Selesai urusan imigrasi, aku lalu sibuk mencari dimana stasiun MRT. Aku bertanya pada seorang satpam, katanya aku harus naik monorail ke terminal 3. Aku menurut saja, setibanya di terminal 3, aku mendekati mesin-mesin penjual tiket MRT dan sekaligus mesin top-up kartu EZ-Link. Aku memperhatikan bagaimana caranya orang-orang tersebut mengisi ulang kartu EZ-Link.

Dengan kartu ini, akan mudah pergi kemanapun di Singapura dengan MRT atau bus. Tinggal men-Tap (Scan) kartu ke mesin yang sudah disediakan sebelum masuk stasiun, dan saat akan keluar stasiun. Kredit (Pulsa) dalam kartu akan otomatis terpotong nantinya.

Ku keluarkan 3 kartu EZ-Link dari dompet. Kartu ini aku pinjam dari teman di Serang yang sudah pernah melancong kesini. Tapi saat aku letakkan kartu kekontak tempat scanning di mesin penjual tiket itu, tulisan yang muncul di layar mesin menunjukkan bahwa kartu EZ-Link error. Seseorang yang sedang mengantri di belakangku menyarankan untuk menuju loket dan menanyakan hal ini ke petugas.

Sambil berjalan menuju loket, ku periksa kartu. Tanggal kadaluarsa masih 3 tahun lagi kok. Kenapa error? Aku penasaran. Lagi-lagi petugas dalam loket ini berwajah oriental. Dalam bahasa inggris berlogat cina dia menjelaskan bahwa kartunya sudah tidak bisa di top-up lagi. Baiklah, aku beli kartu baru saja. Harganya 12 dollar. Aku beli 2. Lalu meluncurlah kami berempat dengan MRT menuju Kallang.

Hujan itu menghalangi aku untuk berjalan kaki menuju hostel yang sudah dibooking sejak sebulan yang lalu melalui situs booking.com. Katanya lokasi hostel tidak jauh dari stasiun MRT Kallang, hanya lima menit berjalan kaki. Sudah jam 5 sore, dan masih belum bisa beranjak. Akhirnya diputuskan naik taxi, dengan tarif yang tertera di meteran (argo) sebesar 4.6$GD. Kalau di rupiahin sekitar tiga puluh ribu. Sehabis solat asar dan makan nasi bekal dari Jakarta, aku keluar lagi untuk jalan-jalan ke Merlion Park. Hujan sudah sedikit reda, tersisa sedikit gerimis. Memutuskan jalan kaki saja ke stasiun MRT, dan kemudian menyesal sudah memutuskan naik taksi tadi, karena jarak hotel ke stasiun cuma sekitar 150 meter saja.

Sampai di Merlion park, gerimis yang jatuh bertambah rapat. Akhirnya nekat hujan-hujanan demi ambil foto. Daffa’ & Abyan sih asik-asik saja. Namanya juga anak-anak, makin seneng diajak hujan-hujanan. Tapi dalam hati aku tidak berhenti berdoa. “Ya Allah, semoga anak-anak sehat saja, jangan sampai sakit karena kehujanan.”

Merlion done! Lanjut ke Garden by the Bay. Sayang badan sudah protes karena capek. Dari stasiun MRT Marina Bay, jalan kaki ke taman ini jauh sekali. Abyan, bocah empat tahun itu pun menangis, minta di gendong. Kakinya mungkin sudah pegal-pegal, ya wajar saja, karena aku juga merasakannya. Setelah sampai di Garden by the Bay, sudah hilang nafsu untuk explore lebih ke dalam. Akhirnya cuma ngaso di pinggir sungai yang letaknya tepat bersebelahan dengan Garden by the Bay. Ada jembatan untuk menyeberangi sungai ini. Tapi sudahlah, cukup kita nikmati saja lampu kelap-kelip dari menara-menara yang ada di dalam taman itu, dari kejauhan. Lalu, mari kembali ke hostel dan tidur.

Hostel yang saya singgahi ini namanya iBackpacker @ Kallang, tarifnya 69 dollar semalam. Kamar private dengan 2 tempat tidur bertingkat (4 single bed). Meski kamarnya sempit dan tidak berjendela, lumayan saja untuk istirahat dengan harga diskon, karena harga normalnya 88 dollar.

Bangun pagi-pagi di hari kedua. Setelah sarapan mie gelas yang aku bawa dari negara tercinta, aku dan anak-anak siap berkelana lagi. “Lets go buddy!”, begitu kalimat yang aku lemparkan ke anak-anak setiap hendak beranjak dari satu tempat ke tempat lain. Sentosa island sudah menunggu. Foto-foto di depan bola dunia universal studio, lalu balik lagi ke kota untuk lihat suasana Orchard road, Chinatown, Little india, dan Bugis. Jam 3 sore, harus sudah start naik bus ke Johor. Yap, itu rencananya!

Suasana pagi yang super sibuk. Stasiun MRT lebih ramai dari pada semalam. Di dalam kereta pun penuh sesak. Tetapi Daffa’ & Abyan tidak mengeluh. Asik-asik saja mereka berdiri berjubelan dengan banyak orang di dalam kereta. Malah jika capek berdiri, mereka duduk di lantai kereta. “Hahaha, benar-benar gembel!”, aku hanya membatin dan tertawa dalam hati. Sambil memperhatikan orang-orang didalam kereta. Ada yang berpakaian rapi, mungkin hendak ke kantor untuk bekerja. Ada remaja-remaja berseragam sekolah. Ada bule-bule dengan pakaian minim dan menyandang ransel. “Ah, dia pasti backpacker!”, fikirku. Tapi dari semuanya yang paling banyak terlihat adalah orang Cina dan India. Kadang aku agak merasa bingung. Sebenarnya aku berada dimana? Singapura, Cina, atau India?

Tiba di Sentosa island. Sekarang aku percaya bahwa aku ada di Singapore lagi. Masuk ke pulau ini dari Vivo City, sebuah mal yang letaknya di pinggir laut. Untuk sampai ke sini, bisa naik MRT ke harbour Front. Dan dari Vivo City ini, ada tiga cara menuju Sentosa island. Bisa naik mono rail (The Sentosa Express Monorail) gratis, bisa juga naik cable car dari lantai 4 Vivo City dan membayar 3 dollar per orang, atau jalan kaki saja melewati jalan koridor ber-Eskalator datar sepanjang kurang lebih 500 meter. Aku tentu memilih jalan kaki. Anakku masih ceria, berlari-lari melalui koridor, sesekali duduk diatas eskalator. Aku berdiri diam saja, sambil mengedarkan pandangan, menikmati suasana, melihat ke laut dengan beberapa kapal pesiar dan boat di permukaanya. Dan tentu saja sesekali menekan tombol shutter. Klick!

Di ujung koridor, seorang gadis muda menyambut. Mengarahkan untuk membeli tiket masuk ke pulau sebesar 1 dollar per orang. Setelah masuk, seperti yang sudah di rencanakan. Hanya berfoto! Agak miris di dalam hati. “Maafkan ibu ya nak, belum bisa ajak nonton ke dalam studio mahal ini.”

Untungnya, anak-anakku sudah terbiasa jalan-jalan model seperti ini bersamaku. Panas-panasan naik kopaja Jakarta, capek lalu numpang tidur di warteg dengan modus beli teh manis pun pernah. Jadi, jalan-jalan keliling Singapore naik MRT ini masih terbilang jalan-jalan yang nyaman buat aku dan anak-anak. Capek sih, tapi tidak terlalu capek juga kok. Semua asik-asik saja.

Advertisements

35 thoughts on “Asem manis rasa trip Singapore Part.1 First Impression

    • Iya.. ngakalin sih itu juga sebenerbya. 1 kartu untuk 2 anak. Satunya buat emaknya. Pintu kan kebuka selama berapa puluh detik tuh. Jadi dua anak lgsug lari sekaligus pas pintu kebuka. Hehehe. Jangan ditiru :p

    • Iya mba, coba cek postingan sebelum ini deh. Aku bikin itinerary dan budgeting. Ntar aku posting lg deh aktual pengeluaran dan aktifitas disana.
      Aku doain mba.. pasti bisa kookk… 🙂 aamiin

  1. Baca tulisan mbak noe ini serasa diajak lagi jalan ke singapur, inget 1 tahun yg lalu tapi project tulisanku ga selesai2 juga hahaa…. ditunggu sambungannya yg di KL mba 😉

    • Hehehe.., ayo tulis dong Yulie cantiik. Part 2 masih di Singapore juga. Besok tanyangnya. Nantikanlah.. wkwkwk

    • Hallo mba Eda, hehe iya paling menyenangkan jalan sama anak. bukan cuma senang-senang, tapi banyak hal bisa ditemui dan jadi proses pembelajaran. 😉 Ayook.. pasti bisa kok, kalahkan rasa takutnya..

      • Waah,, Jogja memang kota yang eksotis 🙂 Oya mba Eda, kok blognya nggak bisa dibuka kenapa ya? padahal pingin kunjung balik niihh

      • Hoo.. tadi kalo aku klik di nama profil wordpress mba “eda” itu, kesambungnya ke alamat catatanemakgalau hehhe.
        di twitter mention aku ya mba, takut belum ke folbek 😉

      • iya mba Eda, aku backpackaholic banget. tapi merasa sangat berdosa kalo ninggalin anak utk jalan2. jadi sebisa mungkin aku ajak anak masuk ke hobiku juga. hehehe 😀

    • Hihihi.. semoa kan berawal dari mimpi mba. Pasti bisa kook. Aku aja beli tiket murah setahun sebelumnya. lalu nabung tiap bulan deh 😀

  2. Menurut sejarahnya, Singapura (dulunya bernama Tumasik) adalah bagian dari nusantara (Indonesia jaman Majapahit). Bersama Malaysia dan Brunai. Jadi semua penduduk aslinya ya Melayu. Setelah kedatangan para penjajah (Portugis, Belanda, Inggris), semua wilayah jajahan dibagi-bagi. Dan didatangkanlah para pekerja dari India dan China. Setelah revolusi kemerdekaan (kayak taon 45 nya Indonesia), yang tertinggal adalah 3 ras. Dan Pemerintahan di bawah Inggris lebih memihak ras India dan China dan sangat membatasi kehidupan ras Melayu di sana. Itulah mengapa lebih banyak ras China dan India di Singapura saat ini.

    Anyway, berapa total budgetnya Mbak NOE?

    • Whoaa.. kan dapet ilmu baru jadinya. hihihi Mba Titi ini pasti nilai sejarahnya bagus deh waktu sekolah. hehehe..
      Budget bertiga 6jt all in mba. 5hari 4 malam, 1 malam nginep di Sin, dan 3 malam di Kuala Lumpur. bener2 ala gembel deh. Tiket 2jt PP, Hotel 1jt, sisanya makan, jajan, transportasi, tiket masuk wisata, dan sedikit souvenir. 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s