Backpacking? no! it was nge-Gembel-ing with children

Tergelitik untuk nulis cerita ini. Saya yang seorang emak-emak dan doyan jalan ini, kadang suka ngerasa berdosa kalo pergi jalan dan ninggalin 2 bocah lucu, alias cowo-cowo imut umur 6 (Daffa’) dan 4 (Abyan). Maka, sebisa mungkin saya juga berusaha mengatur waktu yang lain supaya bisa ajak mereka jalan-jalan juga. Yah, kemana saja yang paling mungkin untuk bisa jalan bareng krucil.

byan bobo Saya sendiri kurang suka ngajak jalan anak ke mal. Ssst.., katanya mal itu banyak setannya. Hahaha.. setan yang suka ngomporin untuk belanja. Tapi sebenarnya saya memang lebih suka jalan ke alam terbuka, pantai, bukit, air terjun, atau taman. Atau kalo dengan anak, saya kadang ajak mereka ke theme park. Paling mewah itu ke Ocean Dream di Ancol, dan Seaworld. Selain itu, belom ada lagi tempat hiburan mahal keluarga yang pernah saya detengin bareng anak. Paling banter, playground yang deket tempat tinggal, sekitaran Serang-Cilegon. Di Krakatau Junction ada tuh play ground gratis. Atau Krakatau Jungle, di seberang Hotel Permata Krakatau Cilegon yang masuknya murah.

Selain taman bermain atau play ground, saya juga suka ajak anak ke museum. Baru museum Kepurbakalaan Banten sih. Satu-satunya museum yang pernah saya kunjungin bareng anak. Museum lain? Baru rencana. Ini ceritanya lagi pingin banget ajak 2 bocah tercinta itu ke museum Geologi di Bandung. Tapi…, belum kesampean. Dengan berbagai alasan, salah dua alasannya karena waktu dan uang tentunya. 😀

Kenapa pingin banget ke museum Geologi? Anak saya itu, terutama Daffa’ yang udah mulai keliatan minatnya di bidang sains. Daffa’ suka banget sama hal-hal berbau dinosaurus. Kalo di toko buku, pasti yang di cari buku tyrex. Semua dinosaurus disebut tyrex sama si Daffa’. ckckck… Dan karena Daffa’ suka banget sama tyrex, maka saya jadi kepingiiiin banget ajak dia ke museum geologi untuk liat replika kerangka dinosaurus disana.

Dan kira-kira sebulan lalu, saya ajak anak-anak ke toko buku di Ramayana Mall Cilegon. Anak-anak masih saja minta beli buku tyrex. No..no..! Nggak lagi ya nak. Saya coba ‘racuni’ fikiran Daffa’ untuk beli buku lain. Akhirnya Daffa’ teracuni juga. Dibelilah 2 buku baru, buku “Aku ingin tau sains” terbitan elex media, seri Antariksa. Dan satu lagi pilihannya Abyan yang tertarik karena cover bukunya bergambar Angry Birds. Tapi ternyata, buku angry birds itu adalah buku resep masakan bahan telur, untuk anak-anak. Hiks.. 😦 mana harga bukunya mahal (Rp65.000) lah, saya kan nggak bisa (baca: nggak suka) masak 😀

Alhasil, buku resep masakan itu pun jadi penunggu laci saja. Dan buku Antriksa akhirnya jadi buku favorit untuk dibaca sebagai pengantar tidur. Seminggu, dua minggu, tiga minggu sudah berlalu. Buku tentang antariksa sudah berkali-kali tamat dibaca. Sampe si Abyan saja hampir hafal; planet adalah…; bintang adalah…; dll. Kadang kalo lagi main sendirian Abyan suka ngomong sendiri tentang apa yang diingatnya. Seperti anak sekolahan yang lagi coba menghafal pelajaran. Kalau Daffa’ seringnya suka melempar pertanyaan tiba-tiba, kapan saja, dimana saja. Matahari berputarnya kemana? Kanan atau kiri? Di Pluto ada orangnya atau enggak?

Semua tingkah anak-anak itu kemudian membuat saya mendapat ide untuk ajak mereka ke planetarium. Long weekend di penghujung bulan Maret 2013 pun tiba. Ditengah kegalauan karena nggak bisa ngetrip kemana-mana, padahal dari beberapa bulan sebelumnya kepingiin banget gunain libur long weekend ini buat solo traveling ke Jogja. Yasudahlah, harus legowo ya. Lalu saya bermanuver. Ajak anak-anak ke planetarium saja. Yang saya fikirkan adalah, untuk lebih mematangkan ilmu yang sudah diketahui anak-anak tentang Antariksa.

Berangkatlah saya pagi itu, Sabtu 30 Maret 2013, bersama Daffa’, Abyan, dan satu orang adik perempuan (Kiki). Dari Serang jam 9.30 Pagi. Kondisi jalan yang nggak bisa di prediksi, membuat kami tiba di planetarium di Taman Ismail Marzuki (TIM) sudah terlalu sore (jam 4 sore!). Yes, definitely the show has off. Pffftt… Bukan cuma anak-anak, saya juga kecewa. Akhirnya, sampe magrib kami cuma main-main di taman, foto-foto, nongkrong di kafetaria. Selepas magrib akhirnya memutuskan untuk masuk XXI dan nonton film Madre. Ngenes sebenernya 😦 140 ribu cuma buat beli tiket nonton. Padahal di Cilegon menghindari bioskop, dan nggak pernah sekalipun ngajak anak nonton sebelumnya. hahaha 😀 Pelit atau Ngirit?

Habis nonton, kita langsung cari bajaj ke Senen. FYI, ini pertama kalinya anak-anak naik bajaj, dan mereka senang sekali. Murah, cuma 10 ribu, berempat. Lanjut naik busway dari Senen ke Terminal Pulo Gadung. Di sanalah tragedy nge-Gembel-ing terjadi. Sekitar jam 8 malam lewat. Abyan yang sudah kecapean tertidur sejak naik bus trans Jakarta. Turun dari bus, keluar halte, Abyan tetep nggak bangun. Pegal juga gendong anak 🙂 tapi nikmat, hehe..

Berhubung ada beberapa teman dari jakarta yang ingin ikut saya pulang ke Serang untuk main ke Anyer keesokan harinya, maka saya ngga bisa langsung naik bus jurusan Pulo Gadung – Merak. Kesana kemari cari tempat yang enak untuk nunggu teman-teman yang lagi pada OTW ke terminal Pulo Gadung juga. Dari halte busway saya lihat warung makan berderet di pinggir terminal, saya pikir, istirahat disana saja sambil ngeteh. Setelah didekati ternyata warung-warung tersebut adalah lapo. Lapo merupakan rumah makan khas batak, dan sejauh yang saya tau menunya pun tidak cocok untuk muslim.

Semakin bingung lah saya. Tetapi saya terus berjalan, kalau-kalau diantara deretan lapo-lapo tersebut terselip sebuah warteg. And yeah…, ketemu warteg juga! Tapi tutup wartegnya 😦 Disebelah warteg ada warung kecil yang menjual minuman ringan dan rokok. Penjaganya seorang laki-laki umuran diatas 40an. Saya kemudian beranikan diri, bertanya;
“Pak, wartegnya tutup ya?” (Dalam hati saya menggerutui diri sendiri; udah tau tutup nanya!)
“Iya neng”.
“Aduh pak, pingin teh manis nih. ini kok lapo semua yang ada”.
“Oh boleh, kalo cuma teh manis bisa dibikinin”.

Si Bapak dari dalam warung kecilnya lalu berjalan ke arah belakang, dan seperti sulap lalu muncul dari dalam warteg. membuka pintu warteg, dan mempersilakan masuk. Lalu saya simpulkan, berarti wartegnya punya dia juga.

Abyan yang masih saja tidur pules di gendong oleh saya, emaknya yang hampir pengsan ngegendong, lalu saya baringkan di atas meja warteg. hahaha.. kalo biasanya setiap habis jalan-jalan sama anak saya suka ngetwitt pake hastag #BackpackingWithChildren kali ini saya ganti jadi “Nge-Gembel-ing with children”. Cocok!

Advertisements

9 thoughts on “Backpacking? no! it was nge-Gembel-ing with children

  1. Hahaha, keren Mak Noe! Emang yg namanya emak2 tuh katanya ga kuat kalo ngangkat karung beras, tapi kalo gendong anak sambil jalan berkilo-kilo mah bisaaaaa! Hidup emak! 😀

    • Haha.. Hidup emak emak.. 😀
      Ngangkat karung berasnya sih oke, tapi kalo ada isi berasnya apa lagi penuh, kikir lagi deh. Wkwkwk

    • Hai mba Niken, terima kasih sudah mampir. Iya mba, sebenarnya banyak hal positive yang bisa ditanamka ke anak-anak melalui kegiatan traveling. Semoga kelak mereka tumbuh jadi anak yang nggak manja. aamiin 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s