BOCAH 6 TAHUN ‘MUNCAK’ KRAKATAU (PART.2)

Daffa' di puncak Krakatau

Daffa’ di puncak Krakatau

Jam 3.30 subuh, Minggu 10 Maret 2013. Aku dan seluruh peserta sudah siap di dermaga pulau Sebesi. 2 perahu kapasitas 25 orang sudah siap dengan nahkoda dan awak-awaknya yang sibuk menyalakan mesin motor. Angin bertiup kencang menampar-nampar wajahku dan Daffa’ yang masih berjuang melawan kantuk.

Sebelum naik ke perahu yang masih rapat dengan dermaga, dan melanjutkan perjalanan laut menuju gunung Anak Krakatau, aku menyempatkan diri mampir ke warung di dekat dermaga. Mengusir kantuk dengan menyeruput teh manis panas, dan mengisi perut dengan sepotong pisang goreng yang juga masih fresh dari wajan.

Beberapa peserta trip yang lain pun mengikuti, ada yang memesan kopi, ada juga yang hanya membeli air panas untuk menyeduh energen sereal atau susu kambing yang mereka bawa dari rumah. Sementara Daffa’ tak mau makan atau minum apapun, dia lebih memilih duduk menggelendot padaku dan mencoba memuaskan rasa kantuknya dengan melanjutkan tidur.

Disela saat menikmati teh dan pisang goreng itu, tiba-tiba ingatanku melayang. Membawaku pada saat pertama kali aku datang ke pulau ini, saat mengikuti trip meraba komplek gunung anak Krakatau tanggal 1-2 Desember 2012. Rasa rindu semakin menguat teringat pada subuh di 2 Desember 2012 itu, aku dan seseorang yang sampai saat ini namanya masih ku ucap dalam doa-doa agar ia ada di masa depanku nanti. Rindu yang diam-diam menyelinap dalam dada sejak aku berada di pelabuhan penyeberangan Merak, sebelum menyeberang ke Lampung, dan melanjutkan perjalanan ke pulau Sebesi via pelabuhan Canti di Kalianda-Lampung Selatan. Mulai dari kapal ferry yang sama untuk menyeberang dari Merak ke Bakauheni, angkot dengan sopir yang sama dari Bakauheni ke dermaga Canti, dan perahu motor yang sama untuk keliling pulau selama trip Krakatau. Semua itu membuat aku rindu pada dia yang yang kukenal setelah setahun aku resmi menjadi seorang single fighter. Dan momen di warung sederhana itu, teh manis panas dan pisang goreng yang sempat kita nikmati bersama. Iya, aku rindu.

“Prriiiiittt…” Terdengar suara peluit ditiup panjang oleh salah seorang awak perahu. Lamunan akibat rasa rindu pun buyar. Aku mulai beranjak dari warung dan menuntun lengan Daffa’, berjalan mengikuti teman-teman peserta trip yang bergegas masuk kedalam kapal. Semua peserta wajib masuk ke kabin kapal, tidak boleh ada yang duduk di atas dak. Menghindari bahaya tercebur ke laut saat hari masih gelap dan teman yang lain tidak menyadari. Cuaca sedikit gerimis dengan angin bertiup kencang, dalam hati aku berdoa semoga perjalanan menuju gunung Anak Krakatau akan aman dan lancar. Segera setelah masuk ke dalam kabin kapal, aku mencari tempat yang masih longgar untuk bisa berbaring. Ku ajak Daffa’ untuk melanjutkan tidur. Perjalanan dari pulau Sebesi ke gunung Krakatau normalnya membutuhkan waktu 2 jam, dan bisa jadi lebih lama jika cuaca buruk.

Perlahan perahu mulai menjauh dari dermaga. Bising mesin motor yang dipacu untuk membuat perahu melaju di atas lautan memenuhi ruangan kabin. Sementara aku dan Daffa’ mencoba kembali tertidur, dan teman-teman yang lain duduk sambil mengobrol dan sesekali melihat ke luar jendela kabin. Menit-menit berikutnya, dengan setengah sadar dan setengah tertidur, aku merasa perahu yang aku naiki terombang ambing ke kanan dan kekiri di hantam angin kencang, sambil terus melaju menerjang tingginya gelombang air laut. Rasa takut menyergap. Aku tetap memejamkan mata, sambil terus berdoa dalam hati. “Ya Allah, selamatkan kami semua yang ada di kapal ini.”

Dalam posisi berbaring, tanganku erat memeluk Daffa’ yang seolah tak bergeming bahkan dalam situasi menegangkan. Aku sebenarnya merasa takut, namun aku lawan dan ku tahan. Aku berusaha tenang, karena khawatir akan memperburuk suasana. Aku terus memejamkan mata. sampai tiba-tiba aku merasa ada tetesan air jatuh di lengan kiriku yang dijadikan bantal untuk kepala Daffa’.

“Bocor! Hujan ya?”
Aku berguman seraya membuka mata. Tak ada yang menyahut. Kulihat air menetes dari atap kabin perahu. Perlahan ku bebaskan lengan kiriku dengan memindahkan kepala Daffa yang masih saja tertidur pulas, lalu ku geserkan tubuhnya agar tak terkena air yang merembes. Ku edarkan pandangan ke seluruh ruangan kabin. Kebanyakan peserta trip tidur berbaring. Beberapa terlihat duduk sambil mencium dan mengoleskan minyak kayu putih di hidung dan keningnya.

“Kalian kenapa?”
Aku bertanya kepada Nida, Vicky, dan Indra, yang terlihat pucat dengan minyak kayu putih cap lang di tangannya mereka.
“Mabok mba.”
Begitu jawab Nida sambil susah payah berusaha tersenyum.
“Yasudah, coba tidur saja untuk mengurangi pusingnya.”
Aku mencoba memberi saran, lalu kembali mencoba memejamkan mata.

***

Perjalanan pagi hari itu memang benar-benar menegangkan. seperti naik roaler coaster rasanya. Tapi syukurlah kami semua selamat sampai ke gunung anak Krakatau yang tahun 2012 lalu tercatat tingginya 230 mdpl itu. Sesaat setelah salah seorang membangunkanku, kulirik jam tangan dan ternyata sudah jam 9 pagi. oh my.., berarti perjalanan 4 jam lebih.

Aku dan seluruh peserta trip lalu turun dari perahu. Cuaca gerimis, rupaya sisa dari hujan yang kata petugas jaga pulau gunung anak Kraktau hujan sejak dini hari. Dan perahu yang aku naiki adalah perahu terakhir yang tiba disana. Sudah ada 5 perahu lain yang telah lebih dahulu sampai, termasuk 1 perahu yang masih dalam rombongan trip backpacker koprol. 4 perahu lain yaitu rombongan komunitas Backpacker Indonesia dan turis mancanegara.

Setelah turun dari perahu, aku langsung menuju pos jaga yang ada disana. Menemui petugas dan meminta ijin untuk berwisata dan naik ke puncak krakatau sampai dengan titik aman yang diperbolehkan. Daffa’ terus mengikuti aku kesana kemari. Banyak yang terheran atau mungkin kagum dengan Daffa’ yang sekecil itu sudah ikut-ikutan wisata alam yang menantang. Apa lagi selama dalam perjalanan menuju gunung Anak Krakatau Daffa’ tidak mabok sama sekali. Padahal seluruh peserta lainnya mengalami mabuk laut dan muntah-muntah.
DSC08007
Ah, jangankan mereka yang baru mengenal Daffa’. Aku yang ibunya sendiri saja tak henti-hentinya bersyukur karena Daffa’ begitu mandiri. Tidak terlalu merepotkan selama trip berlangsung. Yang aku lihat dia begitu excited dimanapun perahu berlabuh, dia dengan ceria turun dari perahu lalu berlari menghambur dan bermain-main di pantai. Bahkan di pulau Umang-umang, berjalan melewati batu-batuan besar berwarna hitam, seperti granit di pantai-pantai Belitong. Daffa’ selalu menolak tawaran bantuan dariku yang ingin menuntunnya.

“Daffa’ bisa sendiri kok,” begitu jawabnya. Padahal aku sendiri mengkhawatirkannya karena bebatuan tersebut langsung bertemu dengan pantai yang ombaknya cukup besar. Sehingga beberapa batu menjadi licin. Tapi, kubiarkan dia berjalan sendiri sambil aku terus waspada berjalan di belakangnya.

Tetapi yang lebih mencengangkan lagi adalah, saat trekking ke puncak Krakatau. Hujan semalaman membuat kawah belerang mengeluarkan asap cukup tebal. Seperti kabut yang membatasi pandangan dan mata menjadi perih. Sedikit bau menyengat penciuman. Ditambah gerimis dan angin sangat kencang yang bertiup dan sukses membuat banyak peserta memilih kembali turun sebelum sampai ke puncak. Tetapi Daffa’ terus bergerak menuju puncak, apapun yang terjadi.

daffa merangkak

Dalam lingkaran merah, Daffa’ terlihat merangkak.

Sebelum menapaki bukit pasir, terlebih dahulu harus berjalan melalui tanah hitam yang juga berlapis pasir, datar dan ditumbuhi banyak pohon cemara. Aku kemudian mengajak Daffa’ bernyanyi bersama. Ide bernyanyi itu muncul setelah Daffa’ bertanya; “Ibu, itu pohon apa sih?”

Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.
Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.
Kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara.
Kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara.

10 menit berjalan. Hutan terlewati, tak ada lagi pohon cemara. Medan mulai menanjak di kemiringan 30 derajat. Bukit pasir berwarna hitam. Aku dan Daffa’ berhenti sejenak. Melihat ke atas. Sudah banyak orang berjalan mendaki dan beberapa sudah sampai di puncak. Asap belerang terlihat seperti kabut. Oke, aku mulai mengkhawatirkan Daffa’.

“Daffa’ mau naik ke atas?” Tanyaku.
“Iya.”
“Nggak takut?”
“Enggak,” Daffa’ menatapku sambil menggelang.
“Nanti kalo cape bilang ya, biar ibu gendong.”
“Iya.”
“Yaudah, yuk jalan lagi.”

***Menit-menit berikutnya,

Daffa’ terus bergerak naik, dan terkadang melihat ke bawah, lalu berhenti menunggu aku, ibunya yang terengah-engah dan tertinggal di bawah dan terkadang sibuk dengan kamera pocket yang tak lepas dari tangan. Menekan tombol shutter mengabadikan moment menakjubkan itu. Atau sesekali juga dimintai tolong oleh teman-teman yang berjalan bersama mendaki Krakatau.

“Uh, kakinya pegel loh bu,” Daffa bicara sambil meringis.
“Kalo cape ibu gendong aja yuk.”
“Tapi ibu cape nggak?”
“Enggak kok, yuk ibu gendong aja.”
“Enggak lah, Daffa’ bisa sendiri kok.”

Beberapa kali percakapan sejenis terjadi antara aku dan Daffa’. Ditengah tiupan angin kencang, tubuh terkadang terhuyung, di saat yang sama juga aku menahan haru. Daffa’ yang sekecil itu pun sudah belajar mandiri. Tak ingin merepotkan ibunya. Dan lebih dari itu, dia juga mengkhawatirkan keadaan ibunya. Tak jarang juga para peserta yang sedang sama-sama mendaki melontarkan pujian untuk Daffa’.

Hingga sampai lah Daffa’ di puncak titik aman yang bisa di daki. Detik-detik akhir yang dramatis. Daffa’ merangkak-rangkak. Lalu kemudian menjatuhkan dirinya ke atas pasir. Duduk bersama dengan banyak pendaki yang tengah duduk beristirahat sambil menikmati pemandangan dari puncak krakatau. Daffa’ membuang nafas sembari berkata setengah berteriak girang; “Huaaahh, akhirnya sampe juga!”

🙂 🙂 🙂 🙂

DSC08034

daffa lempar batu

daffa tidur di pantai

More photos of Daffa’ at Krakatau:
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.582090965136330.1073741826.100000062968237&type=3

Advertisements

2 thoughts on “BOCAH 6 TAHUN ‘MUNCAK’ KRAKATAU (PART.2)

  1. halo ibu jagoan dg 2 anak jagoan!
    oooh jadi ketemu calon bapaknya anak-anak waktu ngetrip di krakatau yah, asiiik!
    ada sedikit sesal ga ikutan trip sambil koprol 😦
    salam buat daffa, abian, dan momo yaa
    kangen mereka!

    @helenamantra

    • Salam balik untuk Auty Helen dari Daffa’, Abyan dan Momo 😀
      nice one day trip di Banten kemaren, nanti ketemuan lagi di kota lain yaah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s